Mentan: Presiden Minta Hilirisasi Pertanian Dipercepat
- 19 Jun 2026 13:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka
- Mentan sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut hilirisasi ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membuka lapangan kerja baru
- Pemerintah mengembangkan komoditas strategis seperti kakao, kopi, jambu mete, kelapa, dan tebu pada lahan sekitar 870 ribu hektare
- Hilirisasi kelapa tengah dipercepat melalui pembangunan pabrik pengolahan di Maluku Utara, Morowali, dan Indragiri Hilir
- Presiden juga meminta pemerintah mewaspadai potensi El Nino ekstrem (El Nino Godzilla)
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ekonomi daerah, dan membuka lapangan kerja baru.
Andi Amran Sulaiman menyampaikan arahan tersebut diperoleh dalam rapat terbatas bersama Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. Selain membahas hilirisasi, pemerintah juga memastikan kondisi pangan nasional berada dalam keadaan aman dan terkendali.
"Beliau memberikan arahan, memberikan petunjuk untuk ditindaklanjuti, diwaspadai El Nino Godzilla kemudian hilirisasi dipercepat. Insyaallah sektor perkebunan yang tadi 870 ribu hektare itu untuk rakyat seluruh Indonesia dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Andi Amran Sulaiman.
Menurut Amran, pemerintah saat ini mempercepat pengembangan komoditas strategis seperti kakao, kopi, jambu mete, kelapa, dan tebu. Program tersebut mencakup lahan sekitar 870 ribu hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Ia mengatakan pemerintah juga terus mempercepat pembangunan industri pengolahan berbasis komoditas perkebunan. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah hilirisasi kelapa di sejumlah sentra produksi nasional.
"Selanjutnya hilirisasi kita kejar, hilirisasi kelapa, pabriknya sudah terbangun di Maluku Utara satu. Mudah-mudahan tahun ini selesai dua kemudian di Morowali satu dan Indragiri Hilir," ucapnya.
Selain membahas hilirisasi, Amran juga melaporkan kondisi ketahanan pangan nasional kepada Presiden. Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton, sementara standing crop diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 11 juta ton.
Menurutnya, cadangan pangan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga panen raya berikutnya. Kondisi itu juga menjadi bantalan dalam menghadapi potensi dampak perubahan iklim ekstrem atau El Nino.
"Ini semua bisa memitigasi risiko. Sekali lagi insya Allah untuk pangan dalam kondisi aman," ucapnya.
Pemerintah juga terus menjalankan berbagai program adaptasi perubahan iklim, mulai dari pembangunan embung, irigasi perpompaan, sumur dalam, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa hingga program cetak sawah baru. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produksi pangan nasional tetap stabil.
Amran menegaskan hilirisasi menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan. Dengan pengolahan di dalam negeri, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....