Rosan: Tidak Ada Arahan Presiden Soal Menahan Suku Bunga Kredit Bank Himbara
- 19 Jun 2026 11:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rosan menegaskan Presiden tidak memberikan arahan khusus terkait penahanan suku bunga kredit Himbara.
- Kinerja Himbara dinilai masih positif dengan pertumbuhan kredit 15 persen dan NPL rendah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani menegaskan tidak ada arahan Presiden terkait suku bunga kredit bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Penegasan itu disampaikan di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Ia merespons pertanyaan mengenai kemungkinan instruksi Presiden menahan bunga kredit perbankan. "Tidak ada, tidak ada," kata Rosan dalam keterangan pers usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden di Istana Kepresidenan, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Rosan, fokus utama perbankan saat ini ialah meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Langkah tersebut dinilai penting menjaga kemampuan penyaluran kredit di tengah perubahan suku bunga.
Ia mengatakan kinerja bank-bank Himbara masih menunjukkan tren positif sepanjang 2025 hingga 2026. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat meningkat rata-rata sekitar 15 persen secara tahunan.
"Yang paling penting adalah bagaimana perbankan ini meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya. Dalam perjalanan setahun ini, lending perbankan kita rata-rata naik 15%, likuiditas dan dana pihak ketiga juga terjaga naik dobel digit," ujarnya.
Selain kredit, likuiditas dan dana pihak ketiga dinilai masih terjaga cukup baik. Keduanya disebut masih mencatat pertumbuhan dua digit.
Rosan juga menilai kualitas aset perbankan nasional berada dalam kondisi sehat. Hal tersebut tercermin dari rasio kredit bermasalah yang relatif rendah.
Ia menyebut rasio kredit bermasalah Bank Mandiri berada pada level sekitar 0,9 persen. Sementara rata-rata non-performing loan (NPL) Himbara berkisar antara 0,9 hingga 1,8 persen.
"Yang penting juga NPL bank kita itu rendah. Mandiri hanya 0,9%, jadi rata-rata NPL bank Himbara antara 0,9% sampai 1,8% pada saat ini," kata Rosan.
Menurutnya, peningkatan efisiensi menjadi faktor yang perlu terus diperkuat industri perbankan. Hal itu dinilai Rosan penting menjaga penyaluran kredit tetap stabil.
"Justru hal itu yang mesti diperbaiki, yang bisa ditingkatkan efisiensinya. Sehingga walaupun ada kenaikan suku bunga, lending kepada masyarakat dan dunia usaha, terutama UMKM, bisa tetap terjaga di level yang baik dan di level yang sama," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....