Kemenimipas Sasar Santri Pompes Tangerang Edukasi TPPO-TPPM

  • 18 Jun 2026 21:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) gencar mengedukasi pencegahan tindak pidana perdagangan orang dan tindak pidana penyeludupan manusia (TPPO-TPPM)
  • Melalui Kantor Imigrasi Tangerang menyasar santri Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Tangerang asuhan Ustaz Yusuf Mansyur

RRI.CO.ID, Tangerang - Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) gencar mengedukasi pencegahan tindak pidana perdagangan orang dan tindak pidana penyeludupan manusia (TPPO-TPPM). Melalui Kantor Imigrasi Tangerang menyasar santri Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Tangerang asuhan Ustaz Yusuf Mansyur.

Kepala Kantor Imigrasi Tangerang, Hasanin mengatakan kegiatan edukasi ini merupakan program Desa Binaan Imigrasi.

Pihaknya menyasar sejumlah fasilitas pendidikan seperti pondok pesantren, sekolah menengah atas (SMA) hingga perguruan tinggi.

Menurutnya, berfokus pada pencegahan TPPO dan TPPM, karean usia produktif rentan menjadi korban TPPO. "Kami melihat Pondok Pesantren Darul Quran ini juga ada potensi, anak-anak muda tidak hanya sekolah SMA, perguruan tinggi juga," ucapnya, Kamis 18 Juni 2026.

"Fungsinya hanya untuk mengedukasi masyarakat yang sudah usia produktif. Mereka yang rentan dengan kegiatan berpotensi menjadi korban TPPO," tambahnya.

Hasanin menjelaskan Desa Binaan Imigrasi merupakan program salah satu dari 15 program strategis dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. Sejak 2025 hingga saat ini sudah terbentuk sekitar 50 desa binaan Imigrasi di Kota Tangerang, salah satunya di Dongkal Raya, Ketapang, tempat Ponpes Tahfizh Darul Quran berdiri.

Pesantren asuhan Ustaz Yusuf Mansyur ini merupakan pesantren kedua yang didatangi petugas imigrasi dari target tujuh pesantren di Tangerang yang akan diedukasi tentang pencegahan TPPO-TPPM. Selain memberikan edukasi tentang bahaya TPPO dan TPPM, juga dilaksanakan pelayanan paspor simpatik bagi santri, staf ponpes dan orang tua murid.

Hasanin mengaku santri Ponpes Tahfizh Darul Quran potensial karena hampir setiap tahun mengirimkan santri-santri ke luar negeri. "Karena itulah kami hadir di sini, melihat santri dari pimpinan pesantren Pak Kiai Yusuf Mansyur, banyak yang mengirim santri-santri untuk sekolah di luar negeri," kata Hasanin.

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran, Ustaz Yusuf Mansyur memandang positif kegiatan tersebut. Melalui edukasi tersebut, ia mengaku baru mengetahui risiko-risiko yang dialami oleh korban TPPO-TPPM.

Sehingga, lanjutnya, diperlukan kerja sama dan kesadaran kolektif untuk sama-sama mencegah kejahatan transnasional tersebut. "Kami berterima kasih kepada Imigrasi, penting banget anak-anak kami dan keluarga besar kami, khususnya di Darul Qur'an menerima sosialisasi tentang bahayanya TPPO-TPPM," ucap Yusuf.

Melalui sosialisasi dan edukasi ini, sambung Yusuf, para santri dan dirinya juga memahami prosedur pembuatan paspor yang baik dan benar. Terlebih diperlukan kejujuran para pemohon dalam memberikan keterangan sehingga terhindar dari TPPO-TPPM.

"Saya juga baru harus dikasih tahu, terutama tadi teman-teman menjelaskan pada saat bikin paspor harus jujur, padahal memang suka nutup-nutupin. Ternyata sampai sana dia bahaya dan teman-teman imigrasi pasti lebih punya sense, lebih punya ilmu, pengalaman, pemahaman sehingga kalau santri-santri bisa jujur mereka selamat," ujar Yusuf.

Kegiatan sosialisasi dan edukasi tersebut diikuti lebih dari 20 santri. Sementara kegiatan layanan paspor simpatik terdapat 25 pemohon yang sudah mendaftar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....