Dukung Program MBG, Kemenperin Dorong Implementasi UBC Collection

  • 13 Jun 2026 14:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenperin mendukung Program UBC Collection sebagai penerapan ekonomi sirkular dan Extended Producer Responsibility (EPR) untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Program ini mendorong pengelolaan dan daur ulang kemasan karton pascakonsumsi guna mendukung target keberlanjutan dan konsep zero waste.
  • Kemenperin menilai kehadiran PT Lami Packaging Indonesia memperkuat rantai pasok industri susu nasional serta mengurangi ketergantungan impor kemasan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian mendukung pelaksanaan Program Used Beverage Carton (UBC) Collection sebagai upaya memperkuat ekonomi sirkular dan industri berkelanjutan. Program tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Program UBC Collection diinisiasi oleh PT Lami Packaging Indonesia bersama PT Frisian Flag Indonesia di Kabupaten Serang, Banten. Program ini diproyeksikan meningkatkan efisiensi pengelolaan dan pemanfaatan kembali kemasan karton pascakonsumsi sebagai bagian dari ekonomi sirkular.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan industri susu nasional perlu diiringi pengelolaan dampak lingkungan yang bertanggung jawab. Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan penguatan prinsip keberlanjutan.

“Program UBC Collection ini merupakan contoh konkret dari penerapan ekonomi sirkular dan Extended Producer Responsibility (EPR). Di sini, produsen juga ikut bertanggung jawab mengelola kemasan pascakonsumsinya agar masuk kembali ke dalam rantai nilai industri,” ujar Agus di Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026.

Agus menilai Program MBG berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi industri makanan dan minuman, khususnya industri pengolahan susu. Peningkatan serapan produk diperkirakan dapat memacu investasi baru dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi.

Menurutnya, pertumbuhan konsumsi susu juga perlu diantisipasi melalui sistem pengelolaan limbah kemasan yang efektif. Langkah tersebut penting untuk memastikan manfaat ekonomi berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan.

“Kita harus memastikan Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Program tersebut juga harus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui penerapan konsep zero waste,” katanya.

Kementerian Perindustrian mendorong sinergi multipihak industri pengolahan susu, industri kemasan, pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan komunitas pengelola sampah. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi sirkular yang terintegrasi.

Sebagai langkah awal, Program UBC Collection melibatkan sejumlah sekolah di Kecamatan Cikande, Banten. Para siswa diberikan edukasi untuk membiasakan pemilahan dan pengumpulan kemasan karton pascakonsumsi secara mandiri.

Program tersebut diharapkan dapat membangun gaya hidup ramah lingkungan sejak usia dini. Selain itu, kegiatan tersebut juga mendukung ketersediaan bahan baku daur ulang bagi industri dalam negeri.

Terpisah, Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengapresiasi investasi PT Lami Packaging Indonesia. Perusahaan tersebut merupakan produsen kemasan aseptik lokal pertama di Indonesia.

“Kehadiran produsen kemasan domestik seperti PT Lami Packaging memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional. Perusahaan tersebut juga meningkatkan daya saing sektor pengolahan susu dan mengurangi ketergantungan industri pada impor,” ujar Putu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....