Ditengah Gejolak Global, Presiden Prabowo Tegaskan Pilih Jalur Kemandirian

  • 12 Jun 2026 01:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo menegaskan Indonesia memilih jalan kemandirian di tengah ketidakpastian dan gejolak global.
  • Pemerintah memperkuat ketahanan nasional melalui disiplin fiskal, reformasi ekonomi, dan kedaulatan energi.
  • Presiden Prabowo menargetkan Indonesia tidak lagi bergantung pada pihak lain dalam pembangunan nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia memilih jalan kemandirian nasional di tengah gejolak dan ketidakpastian global. Pemerintah berkomitmen memperkuat ketahanan ekonomi, energi, dan fiskal agar tidak bergantung pada pihak lain.

Presiden menilai kondisi global saat ini ditandai meningkatnya ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi, pangan, dan keuangan. Situasi tersebut justru menjadi momentum Indonesia mempercepat pembangunan menuju kemandirian nasional.

Pemerintah ingin memastikan kepentingan rakyat dan perekonomian nasional tetap terlindungi di tengah tantangan global. "Masa-masa ketidakpastian menuntut akal sehat, memajukan rakyat maupun perekonomian," ujar Presiden dikutip BAKOM RI, Kamis, 11 Juni 2026.

Presiden menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis menjaga stabilitas nasional. Langkah itu antara lain dengan memangkas anggaran non-esensial lebih dari Rp300 triliun.

Selain itu juga memperkuat digitalisasi perpajakan, memperbaiki tata kelola ekspor, serta memberantas penyelundupan. Pemerintah tetap menjaga disiplin pengelolaan APBN untuk memastikan kesehatan fiskal di tengah tekanan ekonomi global.

Di sektor energi, pemerintah mendorong implementasi program B50 dan memperluas penggunaan energi terbarukan. Pemerintah juga membangun kilang baru memperkuat cadangan bahan bakar guna mengurangi ketergantungan impor energi.

Program B50 adalah program Pemerintah yang mewajibkan bahan bakar solar untuk dicampur dengan Bahan Bakar Nabati. Komposisinya adalah 50% bahan bakar fosil dan 50% bahan bakar nabati dari minyak sawit.

Presiden menyebut perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada kuartal pertama 2026, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen secara tahunan.

Capaian tersebut, kata Presiden, menempatkan Indonesia negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua setelah India. Sementara itu, rasio defisit fiskal tetap terjaga di bawah tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski demikian, Presiden mengakui transformasi nasional menuju kemandirian tidak akan berjalan mudah. Namun, Kepala Negara menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan agenda tersebut.

Langkah itu dinilai penting agar Indonesia mampu mencapai potensi maksimalnya sebagai negara mandiri dan berdaya saing. "Agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerja kurang memuaskan," ucap Presiden.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....