Presiden Prabowo Buka Munas ke XVIII, Simak Sejarah Berdirinya HIPMI
- 10 Jun 2026 22:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- HIPMI genap berusia 54 tahun pada 10 Juni 2026, bertepatan dengan pelaksanaan Munas XVIII di Bandar Lampung.
- HIPMI didirikan pada 10 Juni 1972 oleh Aburizal Bakrie dan sejumlah pengusaha muda untuk menumbuhkan kewirausahaan nasional.
- Selama lebih dari lima dekade, HIPMI menjadi wadah kaderisasi pengusaha muda dan mitra strategis pembangunan ekonomi Indonesia.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026. Kehadiran Presiden menjadi penegasan dukungan pemerintah terhadap peran pengusaha muda dalam memperkuat perekonomian nasional.
Munas XVIII juga bertepatan dengan momentum penting bagi organisasi tersebut. HIPMI tepat berusia 54 tahun sejak pertama kali didirikan pada 10 Juni 1972.
HIPMI merupakan singkatan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Organisasi ini dikenal sebagai wadah kaderisasi pengusaha muda yang bersifat independen dan nonpolitik.
HIPMI didirikan oleh sejumlah pengusaha muda nasional yang dipelopori Aburizal Bakrie bersama rekan-rekannya. Organisasi tersebut lahir di tengah kebutuhan meningkatkan jumlah wirausahawan nasional pada awal masa pembangunan Indonesia.
Pada masa itu, profesi pengusaha belum menjadi pilihan utama generasi muda. Banyak anak muda lebih tertarik menjadi pegawai negeri, anggota militer, atau profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Karena itu, HIPMI hadir untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda Indonesia. Organisasi ini mendorong lahirnya pengusaha yang profesional, tangguh, dan mampu bersaing di berbagai sektor usaha.
Selain membangun jiwa kewirausahaan, HIPMI juga memiliki misi mendukung program pembangunan nasional. Organisasi tersebut berupaya menciptakan pengusaha nasional yang berwawasan kebangsaan serta memiliki etika bisnis yang kuat.
Sejak awal berdiri, HIPMI menegaskan dirinya sebagai organisasi independen di bidang ekonomi. Kegiatannya tidak berorientasi pada keuntungan dan dijalankan dengan semangat kekeluargaan.
Dalam perjalanannya, HIPMI menjadi tempat berhimpunnya para pelaku usaha muda dari berbagai daerah. Organisasi ini juga aktif membantu anggotanya menghadapi berbagai tantangan dunia usaha.
Beberapa persoalan yang kerap dihadapi anggota HIPMI antara lain akses pasar yang terbatas. Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi kendala pendanaan, teknologi, hingga pengembangan jaringan bisnis.
Peran HIPMI semakin terlihat saat Indonesia menghadapi krisis ekonomi pada 1998. Organisasi tersebut dinilai berhasil mencetak kader-kader wirausaha yang kemudian berkembang menjadi tokoh bisnis nasional.
Keberhasilan para kader HIPMI turut mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi pengusaha. Dunia usaha yang sebelumnya kurang diminati mulai dipandang sebagai profesi yang menjanjikan.
Memasuki era Reformasi, HIPMI melakukan berbagai penyesuaian terhadap visi dan misinya. Organisasi ini berupaya menyesuaikan diri dengan tantangan ekonomi baru pascakrisis.
Salah satu fokus yang diperkuat adalah pengembangan usaha kecil dan menengah atau UKM. HIPMI menilai sektor tersebut menjadi pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional.
Hingga kini, HIPMI tetap menjadi salah satu organisasi pengusaha terbesar di Indonesia. Jaringannya tersebar di berbagai daerah dan menjadi wadah pembinaan generasi pengusaha muda nasional.
Melalui Munas XVIII di Bandar Lampung, HIPMI kembali menegaskan komitmennya mencetak wirausahawan baru. Organisasi ini diharapkan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....