Mengenal KH Muhammad Thohir, Ulama Besar yang Namanya Dijadikan RSUD Krui Lampung
- 10 Jun 2026 21:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui yang mengabadikan nama ulama besar asal Pesisir Barat, Lampung.
- KH Muhammad Thohir menempuh pendidikan agama selama puluhan tahun di Makkah, Mesir, Palestina, dan Baghdad.
- Selain dikenal sebagai pendidik dan ulama, KH Muhammad Thohir turut berkontribusi dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Lampung.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui di Pesisir Barat, Lampung, Rabu, 10 Juni 2026. Nama rumah sakit tersebut diabadikan dari ulama besar yang berpengaruh di wilayah Krui.
KH Muhammad Thohir dikenal sebagai tokoh agama yang sangat dihormati masyarakat Lampung. Ia memiliki penguasaan ilmu agama mendalam setelah belajar puluhan tahun di Timur Tengah.
Tokoh yang lahir dengan nama Adjma itu merupakan putra H Ahmad Khotib. Ayahnya merupakan keturunan Banten yang kemudian menetap di wilayah Krui, Lampung.
Sejak usia muda, Adjma telah mempelajari ilmu agama Islam secara intensif. Pendidikan agama pertamanya diperoleh dari lingkungan keluarga dan masyarakat kampung setempat.
Pada usia 16 tahun, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sejak saat itu, ia mulai dikenal dengan nama Haji Muhammad Thohir.
Perjalanan menuntut ilmunya tidak berhenti setelah menetap beberapa waktu di Makkah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.
Selain di Mesir, KH Muhammad Thohir juga belajar di Madinah dan Palestina. Ia turut memperdalam ilmu keislaman di Baghdad, Irak, bersama ulama terkemuka.
Di Baghdad, ia berguru kepada penerus ulama besar Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Pengajaran tersebut memperkaya pemahaman agama sekaligus ilmu tarekat yang dikuasainya.
Perjalanan panjang menuntut ilmu dilakukan dalam berbagai keterbatasan sarana transportasi. Bahkan sejumlah perjalanan antardaerah ditempuh dengan berjalan kaki bersama sahabatnya.
Sekembalinya ke tanah air, KH Muhammad Thohir aktif mengajarkan ilmu agama. Ia dikenal tegas memegang prinsip syariat, namun tetap santun kepada masyarakat.
Menurut berbagai catatan keluarga, ia mengajar ratusan santri tanpa memungut biaya. Para santri tinggal bersama dan kebutuhan sehari-harinya ditanggung secara mandiri.
Selain mengajar, KH Muhammad Thohir juga membantu masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Banyak warga menetap berminggu-minggu di rumahnya hingga kondisi kesehatan membaik.
Pada 1936, KH Muhammad Thohir menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama di Menes, Banten. Kehadirannya turut mewarnai berbagai gagasan penting dalam perkembangan organisasi keagamaan.
Dalam forum tersebut, ia mengusulkan pembentukan lembaga pendidikan dan Muslimat NU. Ia juga mengusulkan pembentukan bank Islam yang dianggap visioner pada masanya.
Gagasan bank Islam tersebut dinilai jauh melampaui perkembangan zaman saat itu. Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan sistem perbankan syariah yang berkembang sekarang.
Sepulang dari muktamar, ia membantu membangun jaringan silaturahmi ulama Lampung. Forum tersebut kemudian menjadi salah satu cikal bakal berkembangnya NU Lampung.
Dalam bidang pendidikan, ia pernah mengajar agama di wilayah Balak Way Tegaga. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengangkatnya sebagai guru agama di Krui.
Metode dakwah yang diterapkannya dilakukan secara bergilir dari kampung ke kampung. Cara tersebut memudahkan masyarakat memperoleh pendidikan agama secara lebih merata.
Pada 1925, KH Muhammad Thohir mendirikan rumah besar bernama Lamban Pardasuka. Rumah itu menjadi pusat pendidikan agama sekaligus tempat tinggal para santri.
Meski kondisi kesehatannya menurun sejak 1945, aktivitas mengajar tetap dijalankan. Ia terus berdakwah hingga wafat pada 18 Januari 1950 di Krui.
Hingga kini, nama KH Muhammad Thohir tetap dikenang masyarakat Pesisir Barat. Pengabadian namanya menjadi RSUD merupakan penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....