Harga Telur Turun Drastis, Peternak Minta Penyerapan Maksimal
- 09 Jun 2026 17:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga telur ayam di tingkat peternak terus berada di bawah harga acuan pemerintah selama dua bulan terakhir akibat melimpahnya pasokan di pasar.
- Ketua KPUN Alvino Antonio menilai penyerapan telur oleh program Makan Bergizi Gratis belum optimal sehingga harga di tingkat peternak masih tertekan.
- Di tengah anjloknya harga telur dan kenaikan biaya pakan, peternak berharap pemerintah memperkuat penyerapan produksi langsung dari peternak lokal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Harga telur ayam di tingkat peternak terus mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini membuat banyak peternak menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin tinggi.
Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio, mengatakan harga telur masih di bawah acuan pemerintah. Di Jawa Timur, harga telur peternak berada di kisaran Rp21 ribuan per kilogram.
Sementara itu, harga telur di Jawa Barat mencapai sekitar Rp22.500 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding harga di tingkat konsumen.
"Di kandang sekarang harganya di bawah harga acuan pemerintah. Jawa Timur sekitar Rp21 ribuan dan Jawa Barat Rp22.500 per kilogram," ujar Alvino, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Alvino, turunnya harga dipicu melimpahnya pasokan telur di pasar. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan membuat harga terus tertekan.
Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membantu stabilisasi harga. Namun, penyerapan telur dari peternak dinilai belum berjalan optimal.
"Kalau SPPG langsung membeli ke produsen, harga bisa lebih stabil. Saat ini banyak yang masih membeli melalui trader," katanya.
Alvino mengungkapkan peternak telah beberapa kali bertemu pemerintah membahas penyerapan produksi. Meski demikian, realisasi pembelian sesuai harga acuan belum terlaksana.
Kondisi tersebut diperparah oleh kenaikan harga pakan dalam beberapa waktu terakhir. Sebagian besar bahan baku pakan masih bergantung pada impor.
"Harga pakan naik karena pengaruh dolar dan biaya impor. Peternak UMKM menjadi yang paling terdampak," ucap Alvino.
Untuk bertahan, lanjutnya, para peternak mulai mengurangi populasi indukan berusia tua. Langkah tersebut dilakukan guna menekan biaya produksi dan pasokan telur.
Selain itu, sebagian peternak berupaya menjual telur langsung kepada konsumen. Cara tersebut diharapkan dapat meningkatkan margin keuntungan mereka.
Alvino berharap pemerintah memperluas penyerapan telur dari peternak lokal. Ia juga mendorong bantuan sosial berbasis telur dan ayam kembali digalakkan.
"Kami berharap produksi peternak bisa terserap lebih banyak. Dengan begitu usaha peternak tetap berjalan dan masyarakat juga terbantu," kata Alvino.
Saat ini pemerintah telah membantu melalui program subsidi jagung. Langkah tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi meski belum menyelesaikan persoalan harga.
Alvino menilai regulasi yang ada sebenarnya sudah cukup baik. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh aturan berjalan secara konsisten di lapangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....