Apa Itu Upwelling? Fenomena Laut yang Membuat Perairan Kaya Ikan

  • 08 Jun 2026 14:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Upwelling merupakan proses alami ketika air dari lapisan laut dalam bergerak naik menuju permukaan perairan secara bertahap
  • Namun demikian, peningkatan produktivitas laut tidak selalu dipengaruhi proses upwelling yang terjadi secara langsung
  • Dengan memahami upwelling, masyarakat dapat mengetahui alasan sejumlah perairan Indonesia memiliki hasil tangkapan melimpah

RRI.CO.ID, Jakarta – Di balik melimpahnya hasil tangkapan ikan di sejumlah perairan Indonesia, terdapat proses alam yang bekerja terus-menerus. Fenomena tersebut dikenal sebagai upwelling, yaitu naiknya massa air kaya nutrien dari dasar laut menuju permukaan.

Upwelling merupakan proses alami ketika air dari lapisan laut dalam bergerak naik menuju permukaan perairan secara bertahap. Air yang terangkat umumnya mengandung nutrien melimpah yang dibutuhkan berbagai organisme laut untuk tumbuh dan berkembang.

Ketika nutrien mencapai permukaan laut, fitoplankton berkembang lebih cepat karena memperoleh pasokan makanan dan sinar matahari. Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan bagi berbagai jenis ikan dan biota.

Karena itu, wilayah yang mengalami upwelling umumnya memiliki tingkat produktivitas perairan lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Kondisi tersebut menjadikan kawasan upwelling sebagai lokasi penting bagi aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan setempat.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjelaskan fenomena tersebut mulai terdeteksi. Sinyal awal upwelling terlihat di Samudera Hindia selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Timor.

"Wilayah yang mengalami upwelling umumnya memiliki produktivitas perairan lebih tinggi karena pasokan nutrien meningkat. Kondisi ini berpotensi mendukung ketersediaan sumber daya ikan dan aktivitas perikanan masyarakat," ujar Widodo dikutip dalam laman, brin.go.id, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, fenomena tersebut ditandai penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, dan munculnya arus vertikal ke atas. Selain itu, peningkatan konsentrasi klorofil juga menjadi indikator penting adanya aktivitas upwelling di perairan.

Kombinasi berbagai indikator tersebut menunjukkan massa air kaya nutrien mulai terangkat dari lapisan laut yang dalam. Nutrien tersebut kemudian dimanfaatkan fitoplankton yang memperoleh sinar matahari cukup di permukaan perairan terbuka.

Selain koridor selatan Indonesia, peningkatan produktivitas perairan juga terdeteksi pada sejumlah kawasan laut lainnya. Wilayah tersebut meliputi Laut Banda bagian selatan, Laut Arafura, hingga perairan barat Sumatra dan Andaman.

Namun demikian, peningkatan produktivitas laut tidak selalu dipengaruhi proses upwelling yang terjadi secara langsung tersebut. Faktor lain seperti arus laut, pasang surut, dan pencampuran massa air juga berperan penting signifikan.

Widodo menjelaskan peningkatan produktivitas di Laut Arafura kemungkinan dipengaruhi pencampuran massa air akibat angin kuat. Sementara wilayah barat Sumatra dipengaruhi interaksi arus laut, pusaran arus, dan dinamika oseanografi lainnya.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, kondisi awal Juni 2026 menunjukkan fase awal upwelling musim timur berlangsung. Aktivitas fenomena tersebut diperkirakan masih berkembang dan perlu diamati hingga Juli serta Agustus mendatang.

Para peneliti terus memantau perkembangan upwelling melalui pengamatan suhu laut, salinitas, dan kandungan klorofil. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memahami dinamika laut sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya perikanan nasional.

Dengan memahami upwelling, masyarakat dapat mengetahui alasan sejumlah perairan Indonesia memiliki hasil tangkapan melimpah. Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya proses alam dalam menjaga kesuburan laut dan ketahanan pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....