BPOM Dorong Kebangkitan Jamu Nasional Lewat Riset, Hilirisasi, dan Kolaborasi
- 02 Jun 2026 14:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM menetapkan sosialisasi, penguatan riset, dan hilirisasi sebagai tiga fokus utama pengembangan jamu Indonesia
- Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia menilai jamu merupakan kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi besar yang perlu diperkuat
- Akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga riset didorong berkolaborasi untuk menjadikan jamu tuan rumah di negeri sendiri
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan Pekan Jamu Indonesia bertujuan memperkuat pengembangan dan penguatan jamu nasional. Ia menyebut terdapat tiga fokus utama, yakni sosialisasi, penguatan riset, dan hilirisasi jamu.
“Dari ketiga hal itu, pertama sosialisasi, yang kedua penguatan yang kita sebut dengan riset development. Dan yang ketiga adalah memberikan nilai tambah tentu ini membutuhkan kerjasama semua pihak,” ucap Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar usai Kick Off ‘Pekan Jamu 2026’ di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa 2 Juni 2026.
Menurutnya, jamu merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga dan perlu terus disosialisasikan. Ia menegaskan kekayaan tersebut harus dipertahankan selama mungkin sebagai warisan bangsa Indonesia.
Taruna Ikrar mengatakan BPOM menginisiasi pengembangan riset dan pengembangan jamu bersama berbagai lembaga. Kerja sama dilakukan dengan akademisi, BRIN, serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Ia menjelaskan hilirisasi jamu perlu dilakukan agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar. Menurutnya, sosialisasi, penguatan riset, dan nilai tambah membutuhkan dukungan seluruh pihak terkait.
Taruna Ikrar menegaskan BPOM, kementerian, akademisi, dan pelaku UMKM harus bekerja bersama. Ia berharap kebangkitan jamu Indonesia dapat terwujud melalui kolaborasi lintas sektor berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia Jony Yuwono menyatakan pihaknya mendukung Pekan Jamu Indonesia yang digelar BPOM. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena sebagian besar herbal dunia berada di wilayah nasional.
Ia mengatakan kekayaan alam tersebut tidak hanya berupa bahan baku, tetapi juga budaya sehat. Budaya jamu, menurutnya, telah lama memanfaatkan berbagai tanaman untuk mendukung kesehatan masyarakat.
“Namun kekayaan alam tersebut bukan hanya sebagai bahan saja, tapi kita memiliki budaya, budaya sehat jamu. Dimana yang memanfaatkan tanaman-tanaman tersebut untuk diolah menjadi sesuatu untuk kesehatan masyarakat,” ujar Jony.
Jony menjelaskan Pekan Jamu Indonesia menjadi sarana memperkenalkan beragam bentuk produk jamu kepada masyarakat. Ia berharap kolaborasi akademisi, pelaku usaha, pemerintah, media, dan berbagai pihak mampu memperkuat masa depan jamu Indonesia.
Senada dengan itu, Profesor Sukardiman dari Universitas Airlangga menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program ini. Ia menegaskan jamu Indonesia harus menjadi raja sekaligus tuan rumah di negeri sendiri.
Menurutnya, kemajuan pengembangan jamu memerlukan kolaborasi dan sinergi antara akademisi, pelaku usaha, serta pemerintah. Sebagai akademisi, ia mengaku terus mendukung program tersebut, termasuk melalui pengembangan riset herbal yang telah memperoleh berbagai paten.
“Sebagai seorang akademisi sangat mendukung program ini dan termasuk saya juga dengan bantuan atau juga support Badan POM. Patent research herbal saya mungkin tertinggi yang granted di Unair yang sudah paling tidak juga bisa bermanfaat,” kata Sukardiman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....