Dwikorita: Cuaca Indonesia Dipengaruhi Kompleksitas Geografis dan Oseanografi

  • 05 Jun 2026 09:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia memiliki karakteristik geografis unik karena berada di antara dua benua, dua samudera, serta wilayah khatulistiwa
  • Perubahan suhu muka air laut di Samudera Pasifik, Samudera Hindia, dan perairan Indonesia memengaruhi fenomena El Nino maupun La Nina
  • Prediksi musim menggunakan skala bulanan hingga beberapa bulan, sementara cuaca harian sangat dinamis dan kompleks sehingga lebih sulit diperkirakan

RRI.CO.ID, Jakarta - Guru Besar UGM dan Pakar Mitigasi Bencana Dwikorita Karnawati mengatakan kondisi cuaca Indonesia dipengaruhi banyak faktor geografis dan oseanografi. Menurutnya, kompleksitas tersebut membuat variasi cuaca dan iklim di berbagai wilayah menjadi sangat beragam.

Dwikorita menjelaskan Indonesia memiliki karakteristik unik karena berada di antara dua benua besar. Selain itu, Indonesia juga terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang luas.

Ia mengatakan Indonesia berada di wilayah khatulistiwa dengan topografi yang sangat bervariasi. Luas wilayah laut yang melebihi daratan menjadikan Indonesia sebagai benua maritim atau kepulauan Nusantara.

“Topografi di Indonesia ini sangat bervariasi, sangat unik dan luas lautan kita ini lebih luas daripada daratan, jadi ibaratnya ‘benua maritim’ atau ‘kepulauan Nusantara’. Seluruh faktor tersebut itu sangat berperan dalam atau berperan sebagai climate driver atau penggerak iklim dan cuaca di Indonesia,” ujarnya dalam sebuah dialog secara daring di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Dwikorita, kondisi cuaca Indonesia dipengaruhi perubahan suhu global dan suhu muka air laut. Suhu muka air laut di Samudera Pasifik, Samudera Hindia, dan wilayah Indonesia turut mempengaruhi cuaca.

Ia menyebut perbedaan suhu muka air laut antara Samudra Pasifik dan kepulauan Indonesia dapat memicu El Nino. Sebaliknya, kondisi tersebut juga dapat memunculkan La Nina yang ditandai musim hujan lebih panjang.

“Ini bisa berdampak terjadinya kekeringan yang panjang atau El Nino yang seperti diprediksi oleh BMKG kita sedang memasuki el nino tersebut. Bahkan sebaliknya juga bisa terjadi La Nina yaitu kebalikan dari kemarau panjang tapi adalah musim hujan yang panjang,” ucapnya.

Ia menambahkan topografi berupa pegunungan, dataran rendah, dan dataran tinggi mempengaruhi pola cuaca setempat. Suhu muka laut yang semakin hangat dan tidak merata juga dapat memicu badai tropis.

Dwikorita mengatakan prediksi musim didasarkan pada curah hujan rata-rata bulanan dengan skala waktu beberapa bulan. Sementara itu, dinamika cuaca dalam skala harian hingga mingguan bersifat sangat dinamis dan kompleks.

“Namun dalam skala harian sampai 10 hari atau sampai satu minggu dinamika cuaca itu sangat dinamis dan kompleks. Selain dinamika yang bulanan sampai 6 bulan tadi, jadi ada dua skala yang berbeda iklim dan harian itu cuaca,” kata Dwikorita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....