Pakar Sebut Proyek PSEL Terkendala Masalah Pemilahan Sampah

  • 04 Jun 2026 15:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kendala utama masih pada pemilahan sampah dari sumber.
  • Sampah tercampur membuat pengolahan lebih sulit dan boros energi.
  • PSEL di 30 lokasi dinilai berjalan sesuai rencana.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah mempercepat program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di 30 lokasi. Program ini mencakup 61 kabupaten dan kota untuk mengatasi persoalan sampah nasional.

PSEL juga ditujukan mendukung transisi energi dan pengembangan ekonomi sirkular. Pemerintah menyiapkan insentif untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut.

Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret, Prof. Prabang Setiono, menilai perkembangan PSEL berjalan sesuai rencana. Namun, sejumlah kendala teknis masih menjadi tantangan utama di lapangan.

"Ya, yang jelas, perkembangan PSEL ini sebenarnya progress ya, ‘on the track’. Hanya kendala-kendala teknis ya, kendala-kendala teknis kalau saya mengatakan, sebenarnya secara teknologi sudah selesai, secara teori konsep sudah selesai. Sekarang adalah kendala-kendala teknis," kata Prof. Prabang dalam perbincangan bersama PRO3 RRI, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut Prabang, teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik sudah terbukti dapat digunakan. Tantangan terbesar berada pada kualitas bahan baku sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan.

Ia menjelaskan sampah seharusnya dipilah sejak sumbernya agar lebih homogen. Pemilahan dinilai dapat mengurangi kebutuhan energi selama proses pengolahan.

"Nah, disinilah sebenarnya, kuncinya ternyata campurnya sampah. Inilah yang membuat energinya habis, kemudian prosesnya menjadi semakin lama gitu kan ya, dan seterusnya,” ungkapnya.

Prabang mengatakan tujuan utama PSEL adalah menyelesaikan persoalan sampah. Produksi energi listrik merupakan manfaat tambahan dari proses tersebut.

Saat ini, fasilitas PSEL yang telah beroperasi berada di Solo dan Surabaya. Namun, kedua fasilitas tersebut dinilai belum mencapai kapasitas optimal.

"Nah kemudian, kalau bilang di Indonesia ini ada berapa, sementara ini yang betul-betul ‘existing’, terinstall, sudah beroperasi, itu ada dua. Yaitu di kota Solo, tempat saya, yang kedua di kota Surabaya," kata dia.

Ia menambahkan Singapura dan Thailand dapat menjadi contoh pengelolaan sampah yang berhasil. Kedua negara menerapkan pemilahan sampah secara disiplin sejak dari sumbernya. (Sarah Maulida Ali)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....