Kunjungan Wisman Meningkat, Komisi VII Dorong Peningkatan Devisa Pariwisata
- 03 Jun 2026 16:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelemahan rupiah dinilai membuat biaya wisata di Indonesia lebih murah bagi turis asing.
- Peningkatan kunjungan wisatawan berpotensi menambah devisa dan menggerakkan ekonomi daerah.
- DPR mengingatkan pelaku usaha yang bergantung pada impor tetap menghadapi kenaikan biaya.
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menilai peningkatan wisata mancanegara dapat menjadi peluang bagi sektor pariwisata nasional. Kondisi tersebut membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.
Menurutnya, wisatawan yang membawa dolar Amerika Serikat maupun mata uang kuat lainnya memiliki daya beli lebih besar selama di Indonesia. Hal tersebut dinilai dapat mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing.
Pernyataan itu disampaikan Nunik menanggapi tren meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah negara di kawasan Asia dan negara tetangga tercatat menunjukkan peningkatan jumlah wisatawan yang berlibur ke Tanah Air.
"Kita berharap tren tersebut akan terus berlanjut. Peningkatan jumlah wisatawan juga diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan devisa negara," ujarnya dalam rapat kerja bersama Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan dampak positif peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya dirasakan sektor perhotelan dan maskapai penerbangan. Berbagai sektor pendukung pariwisata juga berpotensi memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Menurutnya, wisatawan asing cenderung membelanjakan lebih banyak uang untuk akomodasi, kuliner, hiburan, dan produk lokal. Kondisi tersebut dapat mendorong perputaran ekonomi di daerah tujuan wisata.
Ia menilai situasi tersebut menjadi peluang bagi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. Namun, ia mengingatkan pelemahan rupiah juga membawa tantangan bagi sebagian pelaku usaha.
Menurutnya, pelaku usaha yang masih mengandalkan barang impor tetap menghadapi kenaikan biaya operasional. Kondisi itu dapat memengaruhi biaya penyediaan layanan di sektor pariwisata.
Meski demikian, ia berharap sektor pariwisata tetap mampu memanfaatkan peluang yang muncul di tengah dinamika ekonomi global. Ia juga berharap nilai tukar rupiah dapat kembali menguat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara menyeluruh.
"Dalam situasi sekarang seluruh pelaku industri pariwisata harus tetap optimistis. Kita harus melihat peluang yang muncul di tengah berbagai tantangan global," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....