Mensos dan Wamensos Tinjau Belajar Mengajar di SRMP 10 Bogor
- 03 Jun 2026 11:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau langsung proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Bogor.
- Kementerian Sosial menggunakan metode penjangkauan langsung untuk mendata calon siswa dari keluarga prasejahtera.
- Vikar Ziyad Rasya membagikan kisah inspiratif mengenai perubahan kehidupannya setelah masuk ke Sekolah Rakyat.
RRI.CO.ID, Bogor - Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau langsung proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Bogor. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan dialog interaktif bersama para calon siswa beserta orang tua mereka.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono turut mendampingi kegiatan kunjungan kerja pada Selasa, 2 Juni 2026. Kedua pejabat negara tersebut ingin memastikan kualitas pelayanan pendidikan bagi anak dari keluarga prasejahtera.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan pentingnya akses pendidikan yang merata untuk seluruh anak Indonesia. Ia menyatakan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan meraih kesuksesan.
“Orang tuanya mungkin belum sukses, tetapi anak-anaknya harus menjadi orang-orang yang sukses. Yang paling penting, apa pun keadaan orang tuamu, kamu harus tetap bangga dan hormat kepada ayah dan ibumu, kepada keluargamu yang bekerja keras untuk bisa memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya,” kata Gus Ipul.
Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Bogor Vikar Ziyad Rasya berusia 13 tahun membagikan kisahnya. Ia menceritakan perubahan positif yang dirasakan dirinya setelah menempuh pendidikan di sekolah khusus tersebut.
“Jadi sebelum di sini, saya hidup dengan keluarga yang kurang mampu dan waktu itu hampir putus sekolah. Tetapi semenjak ada Sekolah Rakyat, saya di sini sangat berkecukupan, mulai dari makan, kasih sayang, sampai kegiatan sekolah,” ujar Rasya.
Rasya mengungkapkan bahwa suasana belajar di sekolah tersebut membuatnya merasa sangat nyaman dan aman. Ia merasa lebih percaya diri karena iklim lingkungan sekolah yang ramah tanpa adanya perundungan.
“Di sini tidak ada bullying. Semuanya diberi kasih sayang yang setara. Benar-benar berbeda sekali rasanya. Biasanya di rumah ikut dagang, tetapi di sini benar-benar kita fokus belajar dan mengikuti kegiatan-kegiatan lain dari wali asuh atau wali asrama,” katanya.
Gus Ipul merespons cerita tersebut dengan menanyakan proses belajar yang berlangsung di dalam kelas. Ia ingin mengetahui secara mendalam mengenai interaksi antara guru dengan para siswa saat belajar.
“Ceritakan, bagaimana kalau kamu belajar di kelas?” katanya.
Rasya langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan menjelaskan metode pembelajaran menyenangkan yang diterapkan oleh guru. Ia menyebutkan bahwa suasana kelas selalu terasa seru karena diselingi permainan edukatif yang sangat menarik.
“Di sini, sama guru-gurunya dijelaskan dengan jelas, dengan detail, benar-benar agar kami bisa belajar dan fokus belajar. Guru-guru di sini selain mengajar, juga membuat permainan kecil-kecilan untuk membuat suasana kelas seru,” ujar Rasya.
Gus Ipul juga memperkenalkan calon siswa baru bernama Muhammad Al-Jabbar yang berusia 15 tahun. Remaja tersebut sempat melaporkan secara langsung kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya tentang kondisinya.
Ia menegaskan bahwa sistem pendaftaran Sekolah Rakyat menggunakan metode penjangkauan oleh pendamping Kementerian Sosial (Kemensos). Para petugas pendamping akan turun langsung ke lapangan untuk mendata anak-anak dari keluarga tidak mampu.
“Tidak apa-apa. Kita ingin dari awal terbuka. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Data-data harus jujur. Kita mulai dengan kejujuran, insya Allah akan berkah dan kita akan membuat anak-anak ini sukses,” ujar Gus Ipul.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....