Atasi Banjir Rob Pantura, Menteri LH Dorong Penerapan Pertahanan Pesisir Hibrida

  • 02 Jun 2026 23:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penerapan pertahanan hibrida menjadi salah satu solusi mengatasi masalah banjir rob dan problem lingkungan di pesisir Pantura Jawa Tengah.
  • Menteri LH, Jumhur Hidayat juga menyebut mangrove sangat berfungsi sebagai benteng alami untuk mencegah banjir rob atau abrasi.

RRI.CO.ID, Semarang- Menteri Lingkungan Hidup (Menteri LH), Moh Jumhur Hidayat mendorong penerapan pertahanan pesisi hibrida. Langkah ini diambil sebagai salah satu cara mengatasi banjir rob dan krisis lingkungan di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Menurutnya, pertahanan hibrida atau hybrid coastal defense adalah pertahanan yang mengkombinasikan infrastruktur fisik, seperti tanggul raksasa, pompa, dan polder. Yakni dengan pendekatan berbasis ekosistem melalui perlindungan estuari, pengendalian air tanah, penataan ruang ketat, serta restorasi mangrove.

Menteri Jumhur menekankan pentingnya mangrove dalam sebagai proteksi alamiah. Mengingat hutan mangrove merupakan benteng alami.

"Hutan mangrove dapat menurunkan tinggi gelombang 13–66% dalam jarak 100 meter. Juga sekaligus memulihkan habitat ikan dan ekonomi masyarakat pesisir," katanya, saat memberikan Kuliah Umum di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Selasa, 2 Juni 2026.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya juga menyinggung tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) yang rencananya akan dibangun di pesisir Pantura. Pihaknya mengingatkan dengan tegas bahwa infrastruktur beton tersebut bukanlah solusi tunggal.

"Tanggul laut raksasa tersebut berisiko menjadi tidak efektif dan sia-sia dalam jangka panjang. Selama ekstraksi air tanah secara masif, pelanggaran tata ruang, dan kerusakan ekosistem pesisir tidak dikendalikan," katanya.

Dalam kuliah umumnya, Menteri Jumhur juga membedah akar masalah krisis pesisir yang terjadi. Menurutnya, publik harus memahami bahwa potret krisis di Jawa Tengah memiliki dinamika domestik yang sangat ekstrem.

"Akar masalah rob bukan hanya laut yang naik, tetapi daratan yang turun. Kenaikan muka laut sekitar 2,1 mm per tahun, sementara penurunan muka tanah di Semarang–Demak dapat mencapai 0,010–0,150 meter per tahun," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....