Seskab Teddy Respons Kritik Dino: Biaya Kelebihan LN , Presiden Tanggung
- 01 Jun 2026 22:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Presiden Prabowo menanggung biaya kelebihan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri
- 2. Rombongan kepresidenan yang ikut ke luar negeri, jumlahnya telah dipangkas
- 3. Dino Patti Djalal minta Presiden Prabowo mengurangi intensitas ke luar negeri
RRI.CO.ID, Jakarta- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespon kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Sebelumnya, Dino menyoroti intensitas Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri karena dianggap pemborosan dan tidak efektif.
"Saya sebelumnya dimention oleh Pak Dubes Dino, saya mau luruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur," kata Teddy dalam keterangan video yang diunggah di Instagram Sekretariat Kabinet, Senin, 1 Juni 2026.
Teddy memastikan kelebihan biaya kunjungan kenegaraan ke luar negeri ditanggung oleh Presiden Prabowo Subianto alias dana pribadi. "Kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy menegaskan.
Selanjutnya, pemerintah memastikan memangkas jumlah rombongan yang ikut dengan Presiden Prabowo, yakni 50 orang atau maksimal 60 orang. Teddy membandingkan jumlah rombongan dalam kunjungan Presiden ke luar negeri pada era sebelumnya, cukup siginifikan.
"Jadi kalau dulu, itu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal, ini sudah banyak yang tahu, termasuk juga wartawan-wartawan pasti tahu itu semua," kata Teddy.
Selanjutnya , Teddy menjawab saran dari Dino agar Presiden Prabowo memanfaatkan teknologi seperti zoom atau whatsapp untuk berkomunikasi dengan Kepala Negara. Teddy menegaskan Presiden Prabowo yang menentukan agenda pertemuan dengan Kepala Negara dengan saran Menteri Luar Negeri Sugiono.
Termasuk yang menentukan prioritas apakah pertemuan dilakukan secara langsung atau cukup memakai telepon. Presiden Prabowo yang lebih mengetahui skala kebutuhan dari pertemuan dengan Kepala Negara.
"Pertemuan dengan Kepala Negara lain di suatu event, yang menentukan adalah bapak Presiden dan juga saran dari Menteri Luar Negeri. Beliulah yang mengetahui mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan," katanya.
"Mana pertemuan yang bisa langsung ataupun cukup menggunakan telepon. Mana pertemuan yang perlu diberitakan, mana yang tidak diberitakan," ujar Teddy.
Sebelumnya, diplomat senior Dino meminta Presiden Prabowo untuk mengurangi kegiatan kenegaraan di luar negeri. Dino mengusulkan formula ‘1 plus 8’ , dengan memanfaatkan forum internasional.
Formula ‘1 plus 8’, Presiden Prabowo dapat melakukan pertemuan dengan kepala negara lain. Menurutnya cara tersebut lebih efisien baik dari sisi anggaran maupun waktu dan tenaga.
"Sembari menyampaikan pidato, Presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir," kata Dino.
Dino juga menyarankan agar Presiden Prabowo memanfaatkan teknologi seperti zoom atau panggilan lainnya. Ia mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang beberapa kali berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tanpa harus bertemu langsung.
“Jadi dengan satu videocall yang benilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri. Hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama,” kata Dino yang merupakan sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....