Hadapi Disrupsi Media, RRI Kembangkan Layanan Multiplatform

  • 31 Mei 2026 06:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • RRI mengembangkan layanan multiplatform untuk beradaptasi dengan disrupsi media dan perkembangan digital.
  • Radio terestrial tetap dipertahankan sebagai layanan utama, disertai pemanfaatan platform digital.
  • RRI memperluas distribusi informasi, edukasi, hiburan, dan fungsi perekat sosial melalui berbagai kanal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Anwar Mujahid Adhy Trisnanto mengatakan RRI terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi setelah terjadinya disrupsi media. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan layanan multiplatform untuk menjangkau masyarakat yang semakin banyak menggunakan media digital.

Menurut Anwar, RRI tetap mempertahankan layanan radio terestrial sebagai media penyiaran utama. Di saat yang sama, RRI juga memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas distribusi informasi kepada masyarakat.

"Yang jelas begini, setelah disrupsi media, maka RRI mengembangkan apa yang sekarang disebut sebagai multiplatform. Mempertahankan radio terestrialnya, tapi juga menggunakan multiplatform untuk memperluas distribusi pesan menjangkau segmen-segmen masyarakat yang sudah beralih kepada media digital,” ujar Anwar dalam acara Talkshow literasi digital untuk Lansia dan pergelaran budaya, berupa wayang kulit dengan tema ‘Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia dan Anti Gaptek’ di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI, Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.

Anwar mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya RRI beradaptasi dengan perkembangan era digital. Menurutnya, pemanfaatan berbagai platform dilakukan agar RRI tetap dapat menjalankan fungsi sebagai media publik sesuai amanat undang-undang.

Ia menambahkan RRI memiliki peran untuk menyediakan informasi, hiburan, edukasi, serta menjadi perekat sosial bagi masyarakat. Fungsi tersebut terus dijalankan seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

"Dengan demikian maka itu menunjukkan bahwa memang RRI tidak mau ketinggalan untuk memanfaatkan era digitalisasi ini habis-habisan. Supaya tetap bisa mempertahankan, mengamalkan apa yang menjadi, apa yang diamanahkan oleh undang-undang kepada RRI," kata Anwar.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) RA Loretta Kartikasari mengatakan kelompok lansia saat ini semakin akrab dengan teknologi digital. Menurutnya, banyak lansia telah menggunakan telepon pintar, memiliki akses internet, serta aktif menggunakan media sosial.

Loretta mengatakan sebagian lansia bahkan telah memanfaatkan platform digital untuk kegiatan afiliasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lansia tetap mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan ruang digital dalam kehidupan sehari-hari.

"Artinya ternyata lansia ini up to date, berdaya, produktif, aktif. Literasi yang terjadi adalah dimulai dengan membuat kita senang, kita happy, bahagia," ujar Loretta.

Loretta menjelaskan DNIKS bersama BPSDM Kemkomdigi dan sejumlah peneliti komunikasi turut menyusun modul literasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia. Penyesuaian dilakukan pada aspek visual seperti ukuran huruf, warna, dan tampilan materi agar lebih mudah dipahami peserta.

Menurutnya, pendekatan yang menyenangkan menjadi salah satu cara untuk memudahkan penyampaian materi literasi digital kepada lansia. Dengan demikian, materi yang diberikan dapat diterima dengan lebih baik.

"Dimana modulnya juga punya keunikan khusus. Jadi debatnya kita adalah bukan isi, tapi debatnya adalah fontnya, warnanya, visualnya yang bisa ditangkap dan tidak mengganggu penglihatan lansia," kata Loretta.

Loretta mengatakan DNIKS terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat dan instansi pemerintah dalam memperluas literasi digital bagi lansia. Ia juga menyebut sejumlah lansia telah dilibatkan sebagai pelatih untuk memberikan edukasi kepada sesama lansia.

Menurutnya, kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan mengingat aktivitas lansia di ruang digital terus meningkat. Karena itu, program literasi digital perlu terus dilanjutkan agar kelompok tersebut dapat memanfaatkan teknologi secara aman dan bermanfaat.

"Lansia kita sudah belasan persen, artinya aktivitas di dalam digital juga cukup besar. Dan perlunya kami bergandengan tangan bersama pemerintah, stakeholders seluruhnya untuk bisa melanjutkan literasi digital ini kepada lansia," ucap Loretta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....