Kemenkum Tekankan Pancasila Pulihkan Kepercayaan Sosial Dunia
- 30 Mei 2026 12:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Hukum menegaskan Pancasila relevan memulihkan kepercayaan sosial dan martabat manusia di tengah krisis nilai global.
- Wakil Menteri Hukum (Wamenkum) Edward Omar Sharif menyoroti krisis nilai global sebagaimana laporan UNESCO tahun 2021.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Hukum menegaskan Pancasila relevan memulihkan kepercayaan sosial dan martabat manusia di tengah krisis nilai global. Wakil Menteri Hukum (Wamenkum) Edward Omar Sharif menyampaikan pesan itu dalam Webinar Internasional LKLB menjelang Hari Lahir Pancasila.
Wamen Eddy menyoroti krisis nilai global sebagaimana laporan UNESCO tahun 2021. “Normalisasi kekerasan, ketidaksetaraan, dan hilangnya rasa hormat menjadi ancaman nyata keberlangsungan hidup bermasyarakat,” kata Eddy dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.
Ia menegaskan pemulihan masyarakat hanya dapat dicapai melalui penguatan kembali kepercayaan sosial yang berakar pada pengakuan terhadap martabat manusia. “Kepercayaan sosial hanya bisa berakar pada pengakuan yang tulus terhadap martabat manusia,” ucap Eddy.
Menurut Eddy, Pancasila hadir sebagai jembatan antara martabat manusia dan kepercayaan sosial. “Pancasila hadir sebagai jembatan emas yang mempertemukan human dignity dan social trust,” ujar Eddy.
Menurut Eddy, program Literasi Keagamaan Lintas Budaya menekankan internalisasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan ASN. BPSDM Hukum Kemenkum RI bersama Institut Leimena menyebut program itu telah menjangkau 11.000 guru dan ASN.
Sementara, Kepala BPSDM Hukum Kemenkum RI Gusti Ayu Putu Suwardani menilai Indonesia mampu menjadi contoh harmoni sosial dunia. Pengalaman menjaga keberagaman dinilai sebagai modal penting bagi Indonesia dalam menawarkan praktik kebersamaan di tingkat global.
“Pancasila menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia bebas aktif sebagai pedoman diplomasi universal menjembatani perbedaan. Sila-sila Pancasila berperan menghentikan konflik dan memperkuat perdamaian dalam hubungan internasional,” kata Gusti Ayu.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho menyoroti gotong royong sebagai inti Pancasila yang relevan di era polarisasi. Konsep tersebut dinilai penting untuk meredam ketegangan sosial global yang semakin meningkat dan kompleks.
“Jika Pancasila diperas menjadi satu sila, maka jadilah gotong royong sebagai inti kepribadian bangsa Indonesia,” kata Matius. Ia mengutip Soekarno yang menegaskan bahwa negara Indonesia harus berdiri di atas semangat gotong royong.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....