Ancaman Siber Meningkat, CISSReC Ajak Publik Lebih Waspada di Era Digital

  • 27 Mei 2026 09:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha menilai, masyarakat perlu memahami perbedaan antara menjadi korban dan berkurban dalam konteks keamanan digital
  • Menurut Pratama, langkah sederhana seperti memasang autentikasi dua faktor dan mengganti kata sandi berkala menjadi bentuk perlindungan penting
  • CISSReC juga mendorong pemerintah memperkuat literasi keamanan siber melalui pendekatan edukasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat

RRI.CO.ID, Jakarta - Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan siber yang terus berkembang di era digital saat ini. Ajakan tersebut disampaikan bertepatan momentum Iduladha 1447 Hijriah melalui refleksi pentingnya kesadaran menjaga keamanan data pribadi masyarakat Indonesia.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha menilai, masyarakat perlu memahami perbedaan antara menjadi korban dan berkurban dalam konteks keamanan digital. Menurutnya, masyarakat sering menjadi korban kebocoran data, penipuan daring, hingga penyalahgunaan identitas digital tanpa disadari sebelumnya.

“Menjadi korban berarti kehilangan data atau uang tanpa sadar dan tanpa izin. Sementara berkurban dalam konteks keamanan siber berarti mengorbankan sedikit kenyamanan demi keamanan yang lebih besar,” ujar Pratama dalam keterangan pers ditulis, Rabu, 27 Mei 2026.

“Sementara berkurban dalam konteks keamanan siber berarti mengorbankan sedikit kenyamanan. Ini demi keamanan yang lebih besar."

Pratama mengatakan, ancaman siber di Indonesia terus meningkat sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026 melalui berbagai modus kejahatan digital. Mulai dari phishing, kebocoran data, hingga deepfake berbasis kecerdasan buatan disebut semakin sulit dibedakan dari komunikasi asli.

Ia menyoroti masih lemahnya kesadaran digital masyarakat yang kerap tergiur tautan mencurigakan maupun tawaran hadiah palsu di internet. Selain itu, banyak pengguna dinilai masih memberikan akses berlebihan kepada aplikasi tanpa memahami risiko keamanan data pribadi mereka.

Menurut Pratama, langkah sederhana seperti memasang autentikasi dua faktor dan mengganti kata sandi berkala menjadi bentuk perlindungan penting. Ia menilai, kebiasaan memverifikasi pesan mencurigakan juga dapat membantu masyarakat terhindar dari berbagai modus penipuan digital.

“Pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah langkah penting melindungi diri dan keluarga dari ancaman siber,” ujar Pratama. Ia mengingatkan bahwa data pribadi merupakan amanah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab bersama.

CISSReC juga mendorong pemerintah memperkuat literasi keamanan siber melalui pendekatan edukasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat.Selain itu, percepatan pembentukan Badan Pelindungan Data Pribadi dan pembahasan regulasi keamanan siber dinilai menjadi langkah penting perlindungan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....