BNPT Perkuat Literasi Digital Cegah Radikalisasi di Media Sosial

  • 26 Mei 2026 10:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BNPT memperkuat literasi digital menghadapi radikalisasi di media sosial.
  • Penyebaran ideologi radikal dinilai semakin cepat melalui platform digital.
  • Generasi muda disebut menjadi sasaran utama penyebaran paham radikal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat literasi digital untuk menghadapi pola radikalisasi baru di media sosial. Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya penyebaran ideologi radikal melalui platform digital.

Kepala BNPT Komjen Pol. Eddy Hartono mengatakan perang melawan radikalisme kini tidak hanya terjadi di dunia nyata. Menurutnya, penyebaran ideologi radikal juga berlangsung melalui perang narasi di ruang digital.

“Jangan sampai kita kalah kuat dengan narasi-narasi kelompok teror. Mereka terus berusaha menyebarkan ideologi tersebut,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menilai, penguatan kontra narasi dan daya tahan masyarakat menjadi langkah penting menghadapi ancaman tersebut. Sebab, lanjut Eddy, penyebaran paham radikal kini berkembang cepat melalui ruang digital dan media sosial.

Eddy juga menjelaskan penyebaran paham radikal menyasar generasi muda melalui berbagai platform digital. Karena itu, negara perlu memperkuat literasi digital dan edukasi masyarakat secara berkelanjutan.

“Kita sadar targetnya adalah anak-anak kita dan generasi muda. Penyebaran itu terjadi di ruang publik maupun dunia maya,” katanya.

Sementara itu, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menilai arus informasi global berkembang sangat cepat. Kondisi tersebut membuat ancaman keamanan global dan lokal semakin sulit dipisahkan.

Menurutnya, berbagai ancaman saat ini saling berkaitan dan mudah ditiru melalui media sosial. Selain itu, jaringan ideologi dan dinamika sosial turut memengaruhi perkembangan ancaman keamanan.

“Fenomena ancaman saat ini saling berkaitan dan berpotensi ditiru dengan cepat. Pengaruh media sosial dan jaringan ideologi sangat besar,” ujarnya.

Dedi menegaskan perubahan pola ancaman harus diikuti perubahan strategi penanganan. Ia menilai kemampuan membaca gejala awal dan memperkuat pencegahan perlu terus ditingkatkan.

Selain itu, peningkatan ketahanan masyarakat dinilai menjadi langkah penting menghadapi ancaman radikalisme digital. Upaya tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang penyebaran ideologi radikal di masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....