Percepat Penutupan Blank Spot, Komdigi Kombinasi Teknologi Satelit dan Fiber
- 25 Mei 2026 23:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menggunakan kombinasi teknologi satelit dan fiber, untuk percepat penutupan blank spot
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, satelit orbit rendah (Low Earth Orbit), menjadi salah satu opsi startegis dalam pemerataan akses telekomunikasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), mempercepat penutupan wilayah blank spot (tidak terjangkau internet), dengan memperkuat kombinasi teknologi. Hal ini yakni dilakukan melalui penggabungan teknologi fiber optic, Base Tansceiver Stations (BTS), dan satelit.
Wakil Menteri Komdigi (Wamekomdigi) Nezar Patria mengatakan, kombinasi itu untuk menjangkau daerah 3T dan wilayah non-komersial. Dijelaskannya, dengan menggunakan satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO), menjadi salah satu opsi startegis dalam pemerataan akses telekomunikasi.
Sebab, dengan LEO perluasan konektivitas telekomunikasi akan semakin mudah dilakukan. Khususnya lagi hal ini diungkapkan Wamenkomdigi, untuk daerah yang sulit dijangkau dengan infrastruktur telekomunikasi darat.
"LEO itu salah satu opsi. Jadi ada banyak pilihan, mulai dari fiber optik hingga BTS, tergantung kondisi lapangan di daerah 3T tersebut," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Ditegaskan Wamenkomdigi, pemerintah terus mengevaluasi teknologi konektivitas yang paling efektif untuk menutup kesenjangan akses digital di berbagai daerah. Meski demikian ia menyatakan, teknologi LEO, belum dirancangn untuk menggantikan seluruh moda infrastruktur telekomunikasi darat yang telah ada.
"LEO ini juga punya beberapa keterbatasan. Kalau ada gangguan atau terhalang awan, latensinya akan terpengaruh, tapi dia efektif sekali di laut atau pegunungan," ujarnya.
Akan tetapi lebih lanjut Wamekomdigi Nezar mengungkapkan, pemerintah telah memanfaatkan layanan LEO secara terbatas. Hal ini dijelaskannya, untuk mendukung komunkasi di wilayah terdampak bencana dan daerah yang benar-benar terisolasi jaringan telekomunikasi konvensional.
"Kita sudah coba di wilayah bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar waktu itu. Perangkat LEO dibagikan ke daerah-daerah terpencil yang tidak bisa dijangkau sama sekali dan komunikasinya bagus sekali. Kita bisa terhubung, bahkan bisa digunakan untuk video call," kata Wamenkomdigi Nezar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....