Sekolah Rakyat Merauke Jadi Simbol Kebangkitan Anak-Anak Papua Selatan

  • 22 Mei 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke hadir sebagai harapan baru bagi anak-anak putus sekolah di Papua Selatan, khususnya dari kampung terpencil dengan keterbatasan akses pendidikan.
  • Sekolah menghadapi tantangan literasi dasar karena masih ada siswa usia SMP yang belum bisa membaca, namun tetap berkomitmen membangun masa depan dan mimpi anak-anak Papua.
  • Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan program Sekolah Rakyat telah berjalan di 166 titik di wilayah 3T Indonesia sebagai upaya memperluas akses pendidikan gratis hingga pelosok negeri.

RRI.CO.ID, Jakarta - Semangat Hari Kebangkitan Nasional terasa kuat di Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke. Sekolah itu menjadi harapan baru bagi anak-anak putus sekolah di Papua Selatan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Budi Sutomo mengatakan peringatan Harkitnas diisi upacara dan pembelajaran. Tema kebangkitan nasional dinilai sesuai kondisi siswa sekolah rakyat.

"Anak-anak kami merupakan invisible children yang pernah putus sekolah karena faktor ekonomi keluarga. Sebagian siswa berasal dari kampung tanpa akses pendidikan lanjutan," ujar Budi Sutomo dalam wawancara bersama PRO 3 RRI, Jakarta, 22 Mei 2026.

Sekolah rakyat hadir memberi kesempatan belajar bagi anak-anak yang sebelumnya sulit memperoleh pendidikan layak. Banyak siswa masih membutuhkan penguatan literasi dasar saat memasuki sekolah.

"Pekerjaan kami sangat berat karena masih ada siswa seusia SMP belum bisa membaca. Namun kami tetap optimistis membangun masa depan anak-anak kampung terpencil," ujar Budi.

Program sekolah rakyat juga memberi ruang bagi anak-anak memiliki mimpi besar untuk masa depan mereka. Pemerintah diharapkan mendukung keberlanjutan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

"Setiap anak berhak memiliki mimpi dan mimpi itu wajib diwujudkan bersama. Kami ingin siswa sekolah rakyat menjadi pemimpin masa depan Indonesia," ucapnya.

Selain pendidikan, sekolah menghadapi tantangan sosial di tengah isu penolakan program strategis nasional di Merauke. Kekhawatiran muncul apabila masyarakat ikut menolak keberadaan sekolah rakyat di wilayah kampung.

"Namun sejauh ini respons masyarakat terhadap sekolah rakyat sangat baik. Banyak warga ingin langsung mendaftarkan anak mereka menjadi siswa sekolah rakyat," katanya.

Harapan terbesar sekolah ialah lahirnya generasi kampung yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi. Anak-anak itu diharapkan kembali membangun daerah dan memutus rantai kemiskinan keluarga.

"Jika satu kampung memiliki satu lulusan sukses, itu sudah menjadi kebanggaan besar. Kami berharap semangat belajar siswa terus tumbuh melalui pendidikan," ujar Budi.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan program Sekolah Rakyat menjangkau wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar Indonesia. Program pendidikan gratis itu kini hadir di berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke.

Sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat rintisan telah menjalankan kegiatan belajar sejak pertengahan 2025. Lokasi sekolah tersebar di Papua, NTT, Sulawesi Utara, Natuna, hingga Kepulauan Anambas.

"Sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah beroperasi sejak pertengahan 2025 di berbagai wilayah Indonesia. Sekolah itu tersebar dari Aceh, Papua, NTT, Sulawesi Utara, Natuna, hingga Anambas," ujar Yusuf di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Mei 2026. (Agnes Claudia Ohoira)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....