IDEAS: Potensi Ekonomi Kurban 2026 Capai Rp26,89 Triliun

  • 21 Mei 2026 17:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IDEAS memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun.
  • Nilai tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.

RRI.COMID, Jakarta - Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.

Berdasarkan proyeksi IDEAS, jumlah hewan kurban itu terdiri atas 493,18 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing/domba. Dari total tersebut, potensi distribusi daging kurban diperkirakan mencapai 99,29 ribu ton.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengatakan estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/kota. Ini sebagai proksi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban.

“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban. Mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” ujar Tira dalam keterangannya, Kamis 21 Mei 2026.

Meski nilainya masih besar, proyeksi ekonomi kurban 2026 menunjukkan pelemahan dibandingkan 2025 yang mencapai Rp27,10 triliun. Penurunan diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan berbobot besar.

IDEAS mencatat jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10,17 ribu ekor dan kambing/domba turun sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi itu turut berdampak pada potensi distribusi daging kurban yang menurun sekitar 1,85 ribu ton.

Menurut Tira, perubahan pola tersebut menunjukkan adanya penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi domestik. “Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.

"Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram,” katanya. Pergeseran tersebut menjadi sinyal awal bahwa daya beli masyarakat mulai mengalami tekanan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, IDEAS menilai ibadah kurban tetap memiliki fungsi sosial penting karena dapat memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat miskin dan rentan. Namun, distribusi daging kurban dinilai masih belum merata.

Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sebanyak 163 daerah masuk kategori defisit parah dengan tingkat kecukupan distribusi di bawah 20 persen. Selain itu, terdapat 107 daerah sangat defisit dan 73 daerah defisit pada rentang kecukupan 50-80 persen.

Sebaliknya, surplus terbesar terkonsentrasi di wilayah perkotaan Jawa. Jakarta Utara tercatat memiliki surplus sekitar 3.879,25 ton, disusul Depok sebesar 3.644,94 ton dan Kabupaten Sleman sekitar 3.639,37 ton.

Sementara itu, Lampung Timur menjadi salah satu wilayah dengan defisit tertinggi mencapai 473,60 ton dengan tingkat kecukupan distribusi hanya 3,50 persen. IDEAS menilai strategi kurban nasional ke depan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan jumlah hewan kurban, tetapi juga perlu memperkuat tata kelola distribusi agar lebih merata.

“Perlu ada pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan hub pemotongan terstandar. Serta penguatan koordinasi antar lembaga agar distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran,” ujar Tira.

Menurutnya, dengan tata kelola distribusi yang lebih baik, potensi ekonomi kurban dapat berkembang menjadi instrumen pemerataan pangan protein. Sekaligus penguatan solidaritas sosial nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....