Kepala MCB Beberkan Alasan Ratusan Koleksi Meriam Dipamerkan di Muskitnas

  • 21 Mei 2026 11:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Esti Nurjadin menyebut koleksi meriam Joe Spartz dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional karena menonjolkan sisi teknologi pertahanan dan rekayasa masa lampau.
  • Koleksi meriam dinilai memiliki nilai estetika melalui hiasan dan ukiran besi, serta dilengkapi arsip dan sketsa bersejarah hibah Joseph L. Spartz.
  • Tamalia Alisjahbana mengatakan Joe Spartz mencintai sejarah, budaya, dan Indonesia hingga menetap lebih dari 40 tahun di Jakarta.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin menjelaskan alasan meriam Joe Spartz tidak ditempatkan di Museum Satria Mandala. Ia menyebut ratusan koleksi tersebut ditempatkan di Museum Kebangkitan Nasional karena menonjolkan sudut pandang teknologi pertahanan.

Ia mengatakan, pameran meriam tersebut tidak hanya menampilkan meriam sebagai alat tempur, tetapi juga sebagai hasil perkembangan teknologi. Menurutnya, pendekatan ini penting untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat.

"Kalau kita mengambil angle ini bukan dari meriam sebagai alat tempur. Tetapi dari sisi teknologinya," katanya saat ditemui wartawan usai peresmian Pameran Meriam Joseph L. Spartz, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, meriam dibuat dengan berbagai teknik. Mulai dari bahan perunggu hingga logam lainnya, yang menunjukkan kemampuan rekayasa (engineering) yang tinggi pada zamannya.

Selain itu, kata dia, beberapa meriam juga memiliki hiasan dan ukiran besi yang menunjukkan nilai estetika sekaligus teknologi. Sehingga sisi hiasan dan ukuran besi inilah yang menjadi daya tarik sendiri.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menerima hibah berupa arsip dari Joseph L. Spartz. Termasuk sketsa-sketsa meriam yang dinilai penting untuk memberikan konteks sejarah dan teknologi kepada masyarakat.

"Dari hibah itu ada arsip-arsip, termasuk sketsa meriam yang menurut saya penting karena memberikan konteks. Jadi ada keberhasilan engineering pada masa itu," ujarnya.

Sementara itu, Pengawas Museum dan Cagar Budaya Tamalia Alisjahbana memberikan penjelasan terkait koleksi benda bersejarah Joe Spartz. Ia mengatakan bahwa Joe Spartz memiliki ketertarikan terhadap benda bersejarah sejak usia muda.

"Dia sangat tertarik pada sejarah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain. Dan dia memang menggemar membaca sampai akhir hidupnya," ucapnya.

Joe Spartz, kata dia, pernah mengenyam studi ekonomi di Swiss hingga kemudian berkarier sebagai pengusaha. Joseph juga menghabiskan waktu di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia, lanjutnya, menjadi tempat yang paling berkesan baginya hingga ia menetap lebih dari 40 tahun. Menurutnya, Joseph memiliki pandangan khusus terhadap Jakarta dan menggambarkan ibu kota sebagai kota metropolitan yang penuh energi.

"Jakarta adalah metropolis yang energi, beragam budaya yang menambah keseruan, cita rasa, dan intensitas kehidupan. Dia sangat, dia jatuh cinta dengan Indonesia dan lebih dari 40 tahun menetap," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....