Ajak Masyarakat Jelajahi Museum, MCB Akan Luncurkan 'Museum Passport' Bulan Depan

  • 18 Mei 2026 16:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Museum dan Cagar Budaya akan meluncurkan Museum Passport mulai Juni 2026 sebagai buku jejak partisipatif untuk mengajak masyarakat menjelajahi museum dan mengumpulkan stempel perjalanan budaya.
  • Kepala MCB, Indira Estiyanti Nurjadin, menyebut Museum Passport menjadi upaya membangun hubungan lebih dekat antara publik dan warisan budaya melalui kolaborasi bersama PAPERINA serta berbagai pihak.
  • Fadli Zon menilai Museum Passport relevan di era digital karena dapat menjadi bentuk budaya material yang memberi pengalaman personal dan meninggalkan jejak bagi pengunjung museum.

RRI.CO.ID, Jakarta - Museum dan Cagar Budaya (MCB) akan meluncurkan 'Museum Passport' untuk menambah pengalaman dan atraksi pengunjung museum di Indonesia. Peluncuran program tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional 2026.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan Museum Passport dapat diperoleh masyarakat mulai Juni 2026. Pengunjung bisa mendapatkannya melalui IHA Shop di museum-museum yang berada di bawah pengelolaan MCB.

"Pada momentum Hari Museum Internasional tahun ini, izinkan kami memperkenalkan sebuah inisiatif baru. Inisiatif ini dari BLU Museum dan Cagar Budaya, yaitu Museum Passport," katanya kepada wartawan usai orasi kebudayaan dalam peringatan Hari Museum Internasional, Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 18 Mei 2026.

Menurutnya, Museum Passport merupakan buku jejak partisipatif yang mengajak masyarakat menjelajahi museum-museum di Indonesia. Salah satunya dengan mengumpulkan stempel perjalanan budaya.

Selain itu, pengunjung juga dapat merekam pengalaman pribadi saat mengenal warisan peradaban bangsa. "Museum Passport bukan sekadar buku cap kunjungan, melainkan undangan untuk membangun hubungan mendalam antara publik dengan warisan budayanya," ujarnya.

Ia menjelaskan inisiatif tersebut menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor yang dibangun MCB dalam semangat pelayanan publik. Program Museum Passport juga didukung oleh PAPERINA sebagai mitra strategis dalam pengembangan inovasi tersebut.

Pelestarian budaya, kata dia, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun pengelola museum. Upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan dunia usaha, komunitas kreatif, akademisi, dan masyarakat luas.

"Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah atau pengelola museum semata. Tetapi gerakan bersama yang melibatkan banyak pihak," ucapnya.

Ia berharap Museum Passport dapat mendorong tumbuhnya rasa memiliki masyarakat terhadap museum dan warisan budaya Indonesia. Dengan keterlibatan publik, museum diharapkan berkembang menjadi ruang budaya yang hidup dan dekat dengan masyarakat.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengapresiasi peluncuran Museum Passport yang diinisiasi oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB). Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Asosiasi Museum Indonesia, ICOM Indonesia, serta seluruh pihak yang terlibat dalam mewujudkan program tersebut.

Menurutnya, pendekatan serupa telah diterapkan di berbagai negara untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya. Ia mencontohkan Jerman yang pernah menghadirkan Culture Passport guna memperluas akses generasi muda terhadap museum, buku, dan aktivitas budaya lainnya.

"Bagi Indonesia, Museum Passport yang diluncurkan MCB dapat menjadi langkah awal yang penting," ucapnya. Ia menilai kehadiran Museum Passport tetap relevan di tengah perkembangan era digital saat ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa masyarakat tetap membutuhkan bentuk budaya material yang dapat dimiliki. Dan menjadi bagian dari pengalaman personal pengunjung museum.

"Kadang-kadang digital hampir tidak meninggalkan jejak. Karena itu, perlu diperkenalkan kembali material culture, sesuatu yang bisa dipegang dan dimiliki seperti Museum Passport ini," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....