Sederet Fakta Sejarah Harbuknas, Salah Satunya Terkait Rendahnya Minat Baca

  • 18 Mei 2026 10:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah dan masyarakat Indonesia pada Minggu, 17 Mei 2026 kemarin, memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas).
  • Simak sederet fakta tentang sejarah Hari Buku Nasional dalam artikel ini.
  • Pemilihan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional memiliki kaitan erat dengan sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpusnas RI resmi berdiri pada 17 Mei 1980.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah dan masyarakat Indonesia pada Minggu, 17 Mei 2026 kemarin, memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas). Peringatan Hari Buku Nasional, diketahui diperingati setiap tanggal 17 Mei tiap tahunnya.

Simak sederet fakta tentang sejarah Hari Buku Nasional dalam artikel ini. Salah satu fakta sejarah hari besar itu, berkaitan dengan isu rendahnya literasi dan minat baca masyarakat Indonesia pada tahun 2000an.

Melansir Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkal Pinang, berikut sederet fakta Sejarah Hari Buku Nasional:

  1. Digagas Menteri Pendidikan, Abdul Malik Fadjar

Hari Buku Nasional (Harbuknas) pertama kali digagas Menteri Pendidikan, Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002. Saat itu, Abdul Malik Fadjar menjabat pada era Kabinet Gotong Royong 2001 hingga 2004.

  1. Peringatan Hari Buku Nasional karena Rendahnya Minat Baca

Peringatan tersebut lahir karena rendahnya tingkat literasi dan minat baca masyarakat Indonesia pada masa itu. Selain itu, industri penerbitan buku nasional juga dinilai masih tertinggal dibanding negara lain.

Data UNESCO pada 2002 menunjukkan angka melek huruf masyarakat dewasa Indonesia hanya mencapai 87,9 persen. Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Malaysia saat itu memiliki angka melek huruf sebesar 88,7 persen dan Vietnam mencapai 90,3 persen. Sementara Thailand tercatat memiliki angka melek huruf sebesar 92,6 persen.

  1. Indonesia Baru Mampu Cetak 18 Ribu Buku

Indonesia saat itu juga hanya mampu mencetak sekitar 18 ribu buku setiap tahun. Jumlah tersebut jauh di bawah Jepang yang mencapai 40 ribu judul dan China sekitar 140 ribu judul buku.

Kondisi tersebut mendorong Abdul Malik Fadjar mengajak masyarakat lebih aktif membaca dan meningkatkan budaya literasi nasional. Buku dinilai menjadi salah satu cara memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan dunia modern.

  1. Peringatan Hari Buku Nasional Diharapkan Revitalisasi Industri Buku

Selain itu, Hari Buku Nasional juga diharapkan mampu merevitalisasi industri buku nasional yang saat itu tertinggal. Momentum tersebut kemudian diperingati pertama kali pada 2002.

  1. Pemilihan Tanggal 17 Mei

Pemilihan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional memiliki kaitan erat dengan sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpusnas RI resmi berdiri pada 17 Mei 1980.

Awalnya, Perpusnas merupakan gabungan beberapa unit kerja yang mengelola koleksi bahan pustaka nasional Indonesia. Seiring perkembangan waktu, Perpusnas kemudian berkembang menjadi pusat pelestarian literatur nasional.

Peran Perpusnas tidak hanya menyimpan koleksi buku dan arsip penting Indonesia semata. Lembaga tersebut juga menjadi pusat pengembangan budaya membaca dan literasi masyarakat.

  1. Hari Buku Nasional Momentum Hormati Peran Perpustakaan.

Hari Buku Nasional kemudian menjadi momentum untuk menghormati peran perpustakaan dalam dunia pendidikan Indonesia. Selain itu, peringatan tersebut juga mendukung perkembangan industri penerbitan buku nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....