Pendaki Ilegal Merapi Terancam Bahaya karena Dorongan FOMO Medsos

  • 17 Mei 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pendaki nekat menerobos kawasan Merapi akibat faktor FOMO (fear of missing out/ takut tertinggal akan tren) dan konten media sosia
  • Mayoritas pelaku pendaki ilegal mengaku ingin menunjukkan kemampuan diri dan mencari pengakuan dari lingkungan pergaulan maupun media sosial.
  • Pelaku pendaki ilegal merupakan pelajar dan mahasiswa berusia 15 hingga 25 tahun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Jawa Tengah, Heri Wibowo, menjelaskan tren pendakian ilegal meningkat signifikan. Menurutnya, pendaki nekat menerobos kawasan Merapi akibat faktor FOMO (fear of missing out/ takut tertinggal akan tren) dan konten media sosial yang mendorong risiko keselamatan.

Menurutnya, mayoritas pelaku pendaki ilegal mengaku ingin menunjukkan kemampuan diri dan mencari pengakuan dari lingkungan pergaulan maupun media sosial. Selain itu, banyak di antaranya tidak ingin tertinggal tren yang sedang ramai di kalangan anak muda.

“Sebanyak 60 pendaki ilegal tercatat mencoba naik Merapi. Hanya demi konten dan pengalaman pribadi yang menantang,” ujar Heri Wibowo kepada PRO3 RRI.

Heri menekankan bahwa mayoritas pelaku merupakan pelajar dan mahasiswa berusia 15 hingga 25 tahun. Menurutnya, keinginan menonjol di media sosial membuat mereka mengabaikan peringatan resmi terkait status gunung.

“Anak muda saat ini cenderung mengikuti tren daring. Mereka tidak memikirkan risiko serius yang mengancam keselamatan mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan para pendaki yang diamankan kemudian diperiksa dan diwawancarai petugas. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui alasan mereka tetap mendaki Gunung Merapi meski kawasan itu telah lama ditutup.

Selain itu, Heri menambahkan bahwa pihak keluarga dan sekolah juga memiliki tanggung jawab mendidik. Dia berpendapat bahwa pihak masyarakat lokal harus ikut berperan karena fenomena ini menyebar secara luas.

“Pendampingan orang tua serta edukasi sekolah sangat penting. Ini untuk menurunkan angka pendakian ilegal di Merapi,” ujarnya.

Heri juga menyebutkan bahwa petugas melakukan patroli rutin menggunakan CCTV dan jalur monitoring untuk mengidentifikasi penyusupan. Menurutnya, meskipun tindakan ini menyulitkan pendaki ilegal, risiko kecelakaan tetap tinggi di zona siaga.

Dia menekankan pentingnya kesadaran publik terhadap larangan pendakian dan konsekuensi serius jika mengabaikan protokol keselamatan. Menurutnya, edukasi persuasif dan sanksi sosial efektif menekan perilaku nekat remaja di Merapi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....