Seni Jadi Bahasa Perlawanan, PUSPA Bedah Sejarah Nakbah Palestina
- 17 Mei 2026 00:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Mendukung perjuangan Palestina harus terus dilakukan karena genosida masih terus dialami oleh rakyat di sana sampai sekarang. Bukan sejak Oktober 2023, namun dimulai sejak sebelum peristiwa Nakbah tahun 1948.
Untuk mengingatkan awal mula tragedi terburuk bangsa Palestina, PUSPA mengadakan kajian daring bertema Dari Nakbah ke Keffiyeh. Kajian daring hari Sabtu diikuti 150 pendukung dengan narasumber Pizaro Gozali Idrus serta Sri Vira Chandra.
PUSPA merupakan salah satu sayap organisasi Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha yang diketuai oleh Nurjanah Hulwani. Dalam kata sambutannya, Nurjanah mengapresiasi acara yang diinisiasi oleh PUSPA yang baru terbentuk bulan Oktober 2025.
Ia mengingatkan untuk terus bergerak membela Palestina serta meramaikan media sosial dengan berita kekinian pembelaan terhadap mereka. Hal itu dilakukan untuk melawan algoritma media sosial yang sering dinilai tidak berpihak kepada perjuangan bangsa Palestina.
Pizaro Gozali Idrus dengan pengalaman jurnalisme dan advokasinya terkait Palestina menjabarkan sejarah terjadinya Nakbah serta dampaknya. Para founding father Indonesia sejak awal melakukan pembelaan keras terhadap migrasi besar-orang Yahudi ke wilayah Palestina.
Pembelaan keras Indonesia dilakukan sejak era Mandat Inggris, Partition Plan PBB hingga terjadinya tragedi Nakbah tersebut. Ia mengingatkan jasa besar tokoh Palestina seperti Muhammad Ali Tahir dan Syekh Amin Al-Husaini terhadap kemerdekaan Indonesia.
Para tokoh tersebut aktif melobi negara di Timur Tengah melalui Liga Arab agar mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Sementara itu, Ketua PUSPA Sri Vira Chandra memaparkan perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan Nakba melalui jalur seni.
Perjuangan tersebut dituangkan lewat simbol warisan budaya seperti zaitun, kunci, serta tatreez atau sulaman tradisional Palestina. Simbol budaya itu digambarkan dalam bentuk mural, lukisan, serta puisi yang menceritakan kehilangan dan juga perlawanan mereka.
Vira, membacakan puisi terkenal karya Mahmoud Darwis berjudul Kartu Identitas yang diterjemahkan sastrawan terkemuka Saur Situmorang. Karya sastra tersebut menggambarkan perlawanan serta ketidaksudian terhadap perampasan tanah air Palestina oleh pihak zionis internasional.
“Catat! Aku orang Arab. Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku dan tanah yang kugarap bersama anak-anakku.” “Dan tak ada lagi sisa bagi kami kecuali batu-batu ini… Apa negara pun akan diambil juga seperti kata orang?!”
Vira menegaskan perjuangan membela Palestina adalah hak serta kewajiban setiap rakyat Indonesia sesuai kemampuan yang dimiliki. Pembelaan tersebut bisa dilakukan dengan bakat seni yang merupakan anugerah besar dari Sang Pencipta kepada manusia.
Seni adalah bahasa termasuk bentuk perlawanan damai yang sangat kuat dalam menyuarakan tuntutan keadilan bagi Palestina. Melalui media seni ini diharapkan pesan perdamaian dan pembelaan kemanusiaan dapat tersampaikan secara luas ke dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....