Presiden Sedih Ada Orang Dekat di Pemerintahan Terlibat Penyelewengan
- 17 Mei 2026 07:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi pejabat yang menyelewengkan uang rakyat, termasuk orang dekat Presiden.
- Presiden mengungkap Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh sempat gemetar saat melaporkan dugaan penyelewengan yang melibatkan orang dekat Presiden.
- Presiden meminta seluruh proses pemeriksaan tetap dilanjutkan tanpa pandang bulu demi menjaga amanah rakyat dan kepercayaan terhadap negara.
RRI.CO.ID, Nganjuk - Presiden Prabowo Subianto mengaku sedih masih menemukan pejabat yang menyelewengkan uang rakyat, termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya. Presiden menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi siapa pun yang terlibat pelanggaran, meski memiliki kedekatan dengan dirinya.
“Saya geleng-geleng kepala, sedih saya. Tiap hari saya dapat laporan pejabat-pejabat yang nyeleweng,” kata Presiden saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.
Presiden mengungkap banyak pejabat yang sebelumnya diberi kepercayaan dan jabatan penting justru menyalahgunakan kewenangan setelah menduduki posisi strategis. Menurut Presiden, tindakan tersebut menjadi pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
Presiden menceritakan pertemuannya dengan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh. Presiden mengatakan Ateh sempat ragu ketika melaporkan dugaan penyelewengan yang melibatkan orang dekat Presiden.
“Kepala BPKP datang ke saya agak gemetar. Karena yang dia laporkan beberapa orang dekat sama saya,” ujar Presiden.
Menurut Presiden, Ateh sempat meminta arahan apakah pemeriksaan tetap perlu dilanjutkan. Presiden kemudian meminta seluruh proses penegakan hukum tetap berjalan tanpa pandang bulu.
“Teruskan pemeriksaan, tidak ada. Mau orang Prabowo, bukan orang Prabowo, dekat sama saya, nggak ada urusan,” kata Presiden menegaskan.
Presiden juga mengingatkan pejabat negara seharusnya lebih berhati-hati ketika diberikan kepercayaan oleh rakyat. Ia menilai jabatan bukan alat untuk memperkaya diri ataupun menyalahgunakan kekuasaan.
“Kalau diberi kehormatan harus lebih hati-hati dan dijaga. Bukan diberi wewenang malah merasa di atas,” ucap Presiden.
Presiden mengaku prihatin karena kasus korupsi tidak hanya merusak institusi, tetapi juga berdampak kepada keluarga pejabat yang terlibat. “Saya katakan, siapa pun begitu menjabat jabatan negara berarti tanggung jawabnya kepada negara dan rakyat,” ujar Presiden.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....