BRIN-Rosatom Jajaki Pengembangan Teknologi Nuklir di Indonesia

  • 14 Mei 2026 15:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BRIN-Rosatom melakukan penjajakan terkait kerja sama pengembangan teknologi nuklir. Penjajakan dilakukan oleh Direktur Jenderal Rosatom Rusia, Alexey Likachev bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria.
  • Pengembangan tersebut baik untuk kebutuhan energi dan non-energi, setelah sebelumnya Likachev bertemu Presiden Prabowo Subianto.
  • BRIN mendapat tugas melakukan penjajakan kerja sama pengembangan teknologi nuklir.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia dan Rusia terus melakukan penjajakan terkait kerja sama pengembangan teknologi nuklir. Penjajakan dilakukan oleh Direktur Jenderal Rosatom Rusia, Alexey Likachev bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria.

Kedua pihak tersebut membahas peluang pengembangan sektor nuklir. Pengembangan tersebut baik untuk kebutuhan energi dan non-energi, setelah sebelumnya Likachev bertemu Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Arif, BRIN mendapat tugas melakukan penjajakan kerja sama pengembangan teknologi nuklir. Padahal, kerja sama antara Indonesia dengan Rosatom sudah dimulai sejak tahun 2006.

"Ini upaya komprehensif untuk mendalami berbagai opsi teknologi maju bagi masa depan, BRIN bertugas memastikan. Bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi," ujar Arif, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurut Arif, fokus utama kerja sama akan diarahkan pada penguatan lebih lanjut Kelompok Kerja Gabungan. Kelompok Kerja tersebut dimaksudkan untuk penyiapan implementasi energi nuklir berskala besar.

Adapun ruang lingkup penjajakan mencakup pengembangan peta jalan, studi tapak, dan pemilihan teknologi reaktor. Selain itu, juga sampai pada pendalaman terkait siklus bahan bakar nuklir.

Selain berfokus pada penjajakan energi berbasis nuklir, kolaborasi strategis tersebut juga menyasar sejumlah bidang lain. Termasuk revitalisasi fasilitas riset, modernisasi fasilitas reaktor riset GA Siwabessy di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong.

Kemudian, pengembangan teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR). Teknologi reaktor ini dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen, desalinasi air, dan keperluan industri lainnya, selain menghasilkan listrik.

Begitu pula dengan pengembangan radioisotop untuk diaplikasikan pada sektor medis dan industri. Ada juga pengembangan teknologi radiasi dan pemanfaatannya di bidang pangan, medis, serta industri.

"Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi nuklir. Upaya ini akan melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)," katanya.

Arif menjelaskan, penjajakan teknologi telah berjalan progresif, tentunya dengan sejumlah catatan penting. Bahwa keberhasilan adopsi energi atom di Indonesia tidak bergantung pada kecanggihan infrastruktur.

"Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, namun pelibatan disiplin ilmu sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi dampak sosial-ekonomi," ujarnya.

"Selain itu juga memastikan bahwa setiap tahap penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan humanis," ujarnya lebih lanjut. Terlebih, lanjutnya, kerja sama ini memiliki rekam jejak historis yang solid.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....