Bulog Tahan Stok Beras, DPR Ingatkan Potensi Kenaikan Harga di Pasar
- 14 Mei 2026 12:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengingatkan, Perum Bulog tidak menahan stok beras dalam jumlah besar di gudang penyimpanan.
- Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas, akibatnya harga bisa naik
- Ada praktik penerbitan purchase order (PO) kepada rekanan meski barang belum benar-benar masuk ke gudang Bulog.
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengingatkan, Perum Bulog tidak menahan stok beras dalam jumlah besar di gudang penyimpanan. Karena, penahanan stok beras dalam jumlah besar itu dapat memicu kenaikan harga di pasar.
Ketika stok beras tersimpan di gudang dan tidak dilepas ke pasar, Firman mengungkapkan, pedagang membaca sebagai sinyal keterbatasan pasokan. “Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas, akibatnya harga bisa naik,” kata politikus Golkar ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2026.
Meningkatnya kebutuhan beras untuk program pemerintah dan pasar umum secara bersamaan, ia menjelaskan, juga berpotensi mempersempit pasokan di masyarakat. Kondisi itu semakin parah, jika beras yang dilepas ke pasar kualitasnya sudah menurun.
"Bulog juga menghadapi ancaman kerugian besar apabila stok mengalami kerusakan atau penyusutan. Kerugian muncul dari selisih harga jual dengan biaya penyimpanan hingga potensi pemusnahan beras yang rusak akibat jamur," ucap anggota Baleg DPR ini.
Tak hanya itu, ia juga mengungkap, adanya indikasi ketidaksesuaian antara data fisik stok beras di gudang dengan data administrasi. Ia menduga, kondisi tersebut terjadi akibat tekanan pencapaian target kepada pimpinan cabang.
"Ada praktik penerbitan purchase order (PO) kepada rekanan meski barang belum benar-benar masuk ke gudang Bulog. Akibatnya, secara administratif target terlihat tercapai, namun stok fisik di lapangan tidak sesuai data, ini namanya manipulasi data, berbahaya,” ujar Firman.
Firman mengaku, menemukan salah satu cabang Bulog yang diduga memanipulasi data stok hingga mencapai 4.500 sampai 5.000 ton. Ia khawatir apabila praktik serupa terjadi di sejumlah cabang lain, maka angka stok nasional 5,3 juta ton menjadi tidak relevan.
"Jajaran pusat Bulog dan Badan Pangan Nasional segera melakukan audit investigatif secara menyeluruh melalui Satuan Pengawasan Internal (SPI). Pemeriksaan berkala harus memastikan data fisik dan administrasi stok benar-benar sama," kata Firman.
Sebelumnya diberitakan, Dirut Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani memastikan, ketersediaan stok beras nasional dalam kondisi aman dan stabil. Menurutnya, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah menembus lebih dari 5 juta ton.
Jumlah tersebut dinilai, diungkapkannya, cukup untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh Indonesia. “Ketersediaan stok beras yang mencapai lebih dari 5 juta ton ini menjadi bukti komitmen BULOG dalam menjaga stabilitas pangan nasional," kata Rizal saat menerima kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Kompleks Pergudangan Batu Cermin, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 25 April 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....