Pertamina-BGN Sulap Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat
- 08 Mei 2026 14:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Pertamina (Persero) dan Badan Gizi Nasional menandatangani Nota Kesepahaman bersama terkait pengembangan ekosistem energi berkelanjutan.
- Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Pertamina (Persero) dan Badan Gizi Nasional menandatangani Nota Kesepahaman bersama terkait pengembangan ekosistem energi berkelanjutan. Sinergi pengembangan limbah domestik ini menjadikan minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi diolah menjadi bahan bakar pesawat.
Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Selain itu juga mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui pemanfaatan limbah domestik berbasis ekonomi sirkular.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut, program MBG adalah salah satu program makan bergizi terbesar dunia. Hal itu dikarenakan MBG melayani 61,99 juta penerima manfaat.
"Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa. Membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera," ujar Dadan, pada Jumat, 7 Mei 2026.
Sementara, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri menyebut, Sinergi Pertamina-BGN tidak hanya sekedar kerja sama. Namun BGN-Pertamina sama-sama mengerjakan mandat strategis negara, yaitu pangan dan energi.
"Sebagaimana tertuang dalam Misi ke-2 Asta Cita, kita didorong untuk membangun kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan. Hari ini, kita melihat bagaimana dua sektor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi," kata Simon di acara penandatanganan itu.
Menurut Simon, kerja sama ini menjadi wujud nyata dari semangat tersebut. Implementasi program pengumpulan minyak jelantah akan dilaksanakan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect.
Minyak jelantah yang terkumpul akan dimanfaatkan sebagai bahan baku (feedstock) produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Termasuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan biogasoline.
"Kita berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana, tetapi memiliki dampak besar yaitu minyak jelantah. Dari puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di seluruh Indonesia, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil (UCO)," kata Simon.
"(Minyak) yang sebelumnya dianggap limbah, bahkan sering menjadi sumber pencemaran lingkungan, hari ini, kita ubah perspektif itu. Kita jadikan limbah sebagai sumber daya, kita jadikan masalah sebagai solusi, inilah esensi dari circular economy," kata Simon lebih lanjut.
Program ini mendukung tiga agenda strategis nasional, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....