Mengenal Fenomena FoMO: Mengapa Kita Selalu Ingin Eksis di Media Sosial?
- 06 Mei 2026 13:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dipicu penggunaan medsos yang intens
- FoMO: rasa takut tertinggal tren di media sosial
- Picu stres, cemas, dan kurang percaya diri
RRI.CO.ID, Jakarta – Fenomena Fear of Missing Out atau FoMO kini sudah jadi hal lumrah di tengah masyarakat kita. Istilah unik ini awalnya diperkenalkan oleh ilmuwan Inggris bernama Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013.
Kecemasan muncul karena kita takut tertinggal tren terbaru yang sedang viral di berbagai media sosial saat ini. Kebiasaan memantau gadget makin intens karena platform digital sudah menjadi bagian sangat penting dalam rutinitas harian.
Banyak orang kini lebih sibuk memotret makanan lezat daripada berdoa sebelum mereka mulai menyantap hidangan. Tujuannya beragam, mulai dari sekadar berbagi rekomendasi kuliner, hingga hanya ingin pamer kepada teman-teman online.
Sayangnya, fokus berlebihan pada konten sering kali membuat kita kehilangan kenikmatan asli saat sedang makan. Momen berharga jadi terbuang sia-sia hanya demi mendapatkan validasi berupa status atau unggahan di dunia maya.
Banyak pengguna medsos sering kali berusaha keras pamer hidup sempurna meskipun realitanya mungkin jauh berbeda. Mereka sengaja mengunggah konten menarik hanya demi dianggap paling update dan tidak mau kalah eksis.
Perasaan gelisah sering muncul saat kita tidak memegang ponsel atau terputus dari koneksi internet sebentar saja. Kondisi ini bikin seseorang merasa tidak berdaya Karena dorongan kuat untuk selalu memantau aktivitas di media sosial.
Lalu apakah dampak FoMO itu? Ini beberapa diantaranya, dilansir dari berbagai sumber.
FoMO dapat merusak kesehatan mental seperti memicu stres berat dan mengganggu kualitas tidur kita. Rasa percaya diri juga bisa menurun drastis karena kita terlalu sering membandingkan hidup dengan orang lain.
Penelitian tahun 2011 mengungkap bahwa milenial menjadi kaum paling sering merasa khawatir tertinggal tren terbaru. Sebanyak 70 persen milenial terjangkit fenomena ini, angka yang terhitung jauh lebih tinggi dibanding generasi lainnya.
Para ahli mulai khawatir karena kebiasaan ini semakin meluas seiring meningkatnya penggunaan media sosial setiap hari. Milenial cenderung sangat aktif bermain internet sehingga mereka jauh lebih rentan terjebak dalam rasa cemas berlebih.
Beberapa tips mengatasi FoMO, dimulai dengan mengurangi waktu bermain medsos dan lebih fokus menikmati momen didunia nyata. Jangan lupa selalu bersyukur serta berhenti mencari perhatian atau pujian berlebih demi kebahagiaan batin.
| Baca juga: Fenomena ‘Rebutan' Beli Emas Bukan FOMO |
Walau berisiko bagi kesehatan mental, kamu tetap boleh menggunakan media sosial dengan batasan yang wajar. Ingat bahwa tidak semua hal pribadi dalam hidup kita harus selalu dipublikasikan dengan banyak orang.
Hindari membandingkan diri dengan orang lain karena apa yang terlihat di layar ponsel belum tentu kenyataan sebenarnya. Unggahan keren di beranda teman bukanlah tolok ukur utama untuk menilai kebahagiaan hidup seseorang yang sesungguhnya.
Tidak pamer foto liburan bukan berarti hidupmu membosankan atau tidak pernah bersenang-senang sama sekali di dunia nyata. Gunakan medsos secukupnya agar kamu tetap bisa menikmati kedamaian dan hubungan sosial yang lebih sehat. (Sarah Maulida Ali)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....