Fenomena ‘Rebutan' Beli Emas Bukan FOMO
- 16 Feb 2026 18:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena antrian orang yang ingin membeli emas secara fisik adalah fenomena biasa, terutama ketika harga emas sedang berfluktuatif. Ketika harga turun di tengah kecenderungan harga emas akan naik, maka emas menjadi incaran sebagai investasi lindung nilai.
“Antrian ini bukan FOMO (Fear of Missing Out), antrian ini sudah biasa terjadi saatharga logam mulia turun. Dan saat ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan pembelian,” kata Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin 16 Februari 2026, mencermati kejadian di Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center akhir pekan kemarin.
Dalam acara itu, terjadi antrian panjang pengunjung yang ingin membeli emas, bahkan sempat terjadi kericuhan. “Masyarakat tahu bahwa harga logam mulia secara jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” ucap Ibrahim.
Sebelumnya, Ibrahim menyampaikan analisisinya terkait pergerakan harga emas dunia yang diprediksi akan kembali melambung pekan ini. Penyebabnya, kondisi geopolitik di Timur Tengah dimana kapal induk AS sudah ancang-ancang untuk menyerang Iran.
Padahal kondisi di dalam negeri AS sendiri sedang ‘panas’ jelang pemilu sela. Ketegangan terkait kebijakan terhadap imigran juga belum tuntas, dan pasar berspekulasi soal kebijakan bank sentral.
“Jadi wajar kalau masyarakat saat ini kembali mencari aset yang aman, yakni emas,” ucap Ibrahim. Apalagi masyarakat sekarang lebih ‘melek’ informasi terkait komoditas emas dan investasi logam mulia.
Masyarakat masih tetap menginginkan emas secara fisik, meski sekarang ada alternatif emas digital. Menurut Ibrahim, antrian panjang di satu tempat terjadi karena membeli di gerai Antam atau Pegadaian, barangnya tidak ada.
“Walaupun sudah ada bullion bank, emas digital, tapi masyarakat lebih condong memilih emas dalam bentuk fisiknya,” ujar Ibrahim. Di sisi lain, ia melihat antrian orang beli emas sebagai indikasi membaiknya perekonomian dan terjaganya keyakinan konsumen.
“Meningkatnya indeks kepercayaan konsumen mengindikasikan adanya perputaran uang beredar. Ini dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan investasi di logam mulia sebagai lindung nilai,” kata Ibrahim menutup keterangannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....