Stafsus Presiden Tekankan Persatuan Hadapi Ancaman Global dan Perang Informasi
- 30 Apr 2026 22:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dudung menegaskan persatuan dan kesatuan menjadi kunci menghadapi ancaman global dan disinformasi
- Pancasila dinilai sebagai kekuatan menjaga keberagaman dan stabilitas bangsa
RRI.CO.ID, Jakarta - Staf Khusus Presiden Dudung Abdurachman menekankan pentingnya persatuan menghadapi ancaman global dan perang informasi yang terus berkembang. Ia menilai kondisi dunia saat ini menuntut kewaspadaan tinggi agar bangsa tidak terpecah oleh kepentingan eksternal.
“Persatuan dan kesatuan adalah kunci utama menjaga bangsa ini tetap utuh di tengah ancaman global yang kompleks. Kita harus waspada terhadap informasi menyesatkan yang dapat merusak nilai kebangsaan serta persatuan masyarakat luas saat ini,” ujar Dudung saat menghadiri Kongres VII Perhimpunan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) di Lumire Hotel, Senen, Jakarta Pusat, Kamis, 30 April 2026.
Menurut Dudung Indonesia memiliki kekuatan besar melalui Pancasila yang mampu menjaga keberagaman di tengah potensi konflik global. Nilai kebangsaan dinilai harus terus diperkuat untuk menghadapi dinamika geopolitik yang semakin tidak menentu.
“Bangsa ini dibentuk karena perbedaan dan kita memiliki Pancasila sebagai pemersatu yang harus dijaga bersama seluruh masyarakat Indonesia. Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan pihak luar untuk memecah belah persatuan bangsa yang sudah kuat selama ini,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga moralitas, toleransi, dan semangat gotong royong sebagai fondasi bangsa Indonesia. Nilai tersebut, lanjutnya, menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan internal maupun eksternal yang semakin kompleks.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat PIKI menyoroti pentingnya konsistensi organisasi dalam menjalankan visi dan tema kongres yang telah ditetapkan. Baktinendra Prawiro menilai organisasi harus belajar dari sejarah untuk menjaga kesinambungan gerakan.
“Kita harus menghargai sejarah dan tidak melupakan fondasi organisasi yang telah dibangun oleh para pendahulu dengan penuh perjuangan. Tanpa itu, organisasi akan kehilangan arah dan mudah terjebak dalam rutinitas tanpa makna yang jelas,” ujarnya.
Ia menegaskan kongres bertema ‘Tegakkanlah Keadilan’ tidak boleh hanya menjadi simbol, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata organisasi. Menurutnya evaluasi berkelanjutan penting agar organisasi tetap relevan dan memberi dampak bagi masyarakat.
“Tegakan keadilan bukan sekadar tema, tetapi harus menjadi tindakan nyata dalam kehidupan berorganisasi dan berbangsa secara konsisten. Kebenaran harus diarahkan pada keadilan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas dan bangsa Indonesia,” ucapnya. (Agnes Claudia Ohoira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....