Menbud Fadli Pastikan Pemasangan Chattra Borobudur Tidak Ubah Struktur Candi
- 29 Apr 2026 21:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli memastikan pemasangan chattra di Candi Borobudur tidak mengubah struktur karena bersifat reversible.
- Pemasangan chattra menjadi bagian penguatan fungsi Borobudur sebagai living heritage dan merupakan kebutuhan umat Buddha.
- Proses masih dalam kajian heritage impact assessment dan koordinasi dengan UNESCO sebelum realisasi tahun ini.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon memastikan rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur tidak akan mengubah struktur asli candi. Ia mengatakan, pemasangan tersebut justru menjadi bagian dari penguatan fungsi Borobudur sebagai living heritage.
Sebelumnya, pihaknya telah bertemu dengan pejabat UNESCO di Paris untuk membahas rencana tersebut. Menurutnya, pemasangan chattra menjadi kebutuhan umat Buddha dan telah lama diusulkan Permabudi, Walubi, serta Dirjen Bimas Buddha.
"Pemasangan chattra ini merupakan bagian dari kebutuhan living heritage. Borobudur tidak hanya ditempatkan sebagai dead monument, tetapi sebagai living heritage," ucapnya kepada wartawan usai peresmian Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 29 April 2026.
Ia menegaskan bahwa pemasangan Chattra bersifat reversible atau dapat dilepas kembali. Sehingga tidak menambah maupun mengubah struktur asli candi.
Selain itu, proses pemasangan masih dalam tahap kajian, termasuk penyusunan heritage impact assessment. Hal ini ntuk memastikan tidak ada dampak negatif terhadap nilai universal luar biasa Borobudur.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus mengikuti seluruh tahapan dan melaporkan perkembangan tersebut kepada UNESCO. Rencananya, pemasangan chattra akan dilakukan pada tahun ini setelah seluruh proses dinyatakan rampung.
"Jadi chattra yang kita pasang ini tidak mengubah apa pun, sifatnya reversible. Pemasangan Chattra tahun ini," ujarnya, menambahkan.
Di sisi lain, UNESCO menekankan pentingnya tahapan teknis sebelum usulan tersebut dibahas lebih lanjut. 'Heritage Impact Assessment' perlu disusun dan disampaikan agar dapat dikaji oleh UNESCO dan badan penasihat terkait.
"Borobudur adalah living site dan harus tetap menjadi living site. Yang penting bagi kami adalah memastikan bahwa proses teknis ditempuh dengan baik," ujar Direktur World Heritage Center UNESCO, Lazare Eloundou Assomo.
Perlu diketahui, bahwa prosesi pemasangan Chattra juga menggunakan kajian 'Heritage Impact Assessment'. Atau analisis dampak terhadap warisan budaya yang tengah disiapkan oleh BRIN bersama Kementerian Agama Republik Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....