UNESCO Minta Proses 'Heritage Impact Assessment' sebelum Pasang Chattra Borobudur

  • 27 Apr 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • UNESCO menyoroti rencana pemasangan Chattra di Candi Borobudur, yang masih dalam tahap kajian teknis dan mengikuti prosedur Warisan Dunia.
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pelindungan nilai universal Borobudur, serta menyebut pemasangan Chattra bukan rekonstruksi, melainkan usulan komunitas Buddha dengan prinsip konservasi ketat.
  • UNESCO meminta penyusunan 'Heritage Impact Assessment' sebagai dasar evaluasi, yang kini tengah disiapkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Kementerian Agama sebelum keputusan lanjutan diambil.

RRI.CO.ID, Paris - Candi Borobudur kembali menjadi perhatian UNESCO terkait rencana pemasangan Chattra pada stupa utama. Perhatian tersebut menjadi pembahasan yang dilakukan sesuai prosedur UNESCO dengan mempertimbangkan masukan komunitas internasional.

Isu Borobudur mendapat perhatian khusus dalam pertemuan antara pemerintah Indonesia dan UNESCO. Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada pelindungan nilai universal luar biasa Borobudur sebagai Warisan Dunia.

"Borobudur harus dipahami sebagai situs hidup yang memiliki makna religius dan spiritual bagi masyarakat," ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Senin, 27 April 2026. Terkait rencana pemasangan Chattra pada stupa utama, ia menjelaskan bahwa usulan tersebut berasal dari komunitas Buddha.

Ia menambahkan bahwa pemasangan Chattra bukan merupakan rekonstruksi maupun perubahan terhadap struktur asli candi. Ia menyampaikan bahwa proses tersebut dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, etika konservasi, rujukan ilmiah, serta mengikuti prosedur Warisan Dunia.

"Borobudur harus dipandang secara utuh, sebagai Warisan Dunia yang wajib kita lindungi. Sekaligus sebagai living heritage yang memiliki makna simbolik dan spiritual bagi masyarakat," katanya, menjelaskan.

Sementara itu, UNESCO menekankan pentingnya tahapan teknis sebelum usulan tersebut dibahas lebih lanjut. 'Heritage Impact Assessment' perlu disusun dan disampaikan agar dapat dikaji oleh UNESCO dan badan penasihat terkait.

"Borobudur adalah living site dan harus tetap menjadi living site. Yang penting bagi kami adalah memastikan bahwa proses teknis ditempuh dengan baik," ujar Direktur World Heritage Center UNESCO, Lazare Eloundou Assomo.

Perlu diketahui, bahwa prosesi pemasangan Chattra juga menggunakan kajian 'Heritage Impact Assessment'. Atau analisis dampak terhadap warisan budaya yang tengah disiapkan oleh BRIN bersama Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memaparkan platform 'Living Heritage, Shared Future' sebagai bentuk Indonesia memperkuat pelindungan warisan budaya berbasis komunitas. Hal tersebut mendorong kerja sama global yang setara, serta memperluas akses dukungan internasional bagi negara berkembang.

Saat ini, rencana pemasangan Chattra masih berada pada tahap kajian teknis di UNESCO. Hasil 'Heritage Impact Assessment' akan menjadi dasar penentuan kelanjutan usulan tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....