Stok Beras Capai Rekor, DPR RI Tekankan Pengendalian Harga
- 25 Apr 2026 12:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi IV DPR RI mengingatkan Perum Bulog terkait tingginya harga beras di pasar. Hal ini terjadi meski stok beras nasional mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.
RRI.CO.ID, Jakarta – Komisi IV DPR RI mengingatkan Perum Bulog terkait tingginya harga beras di pasar. Hal ini terjadi meski stok beras nasional mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menyebut stok pangan nasional mencapai sekitar 5,19 juta ton. Angka tersebut meningkat dari posisi sebelumnya sekitar 4,7 juta ton.
Namun, ia menyoroti harga beras di pasar yang masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan ketersediaan stok yang melimpah.
“Stok sangat mencukupi, bahkan tertinggi sepanjang sejarah. Namun, harga beras di pasar masih di atas HET,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 Agustus 2026.
Ia meminta pemerintah melakukan perhitungan yang tepat terkait distribusi dan pengendalian harga. Tujuannya agar ketersediaan stok sejalan dengan stabilitas harga di tingkat masyarakat.
Selain harga, Komisi IV juga menyoroti persoalan infrastruktur pergudangan nasional. Panggah menyebut anggaran Rp5 triliun hanya mencakup pembangunan fisik gudang.
Ia menjelaskan, anggaran tersebut belum mencakup pengadaan lahan untuk gudang baru. Jika lokasi jauh dari pusat distribusi, biaya logistik berpotensi meningkat.
“Kami mendorong pengamanan pengadaan tanah agar tidak terjadi spekulasi. Hal ini penting untuk efisiensi distribusi pangan,” katanya.
Komisi IV DPR juga mendorong percepatan revisi undang-undang pangan nasional. Regulasi baru tersebut mencakup 33 poin perubahan penting.
Perubahan itu meliputi penguatan fungsi Bulog sebagai stabilisator stok dan harga. Selain itu, ada peningkatan peran pemerintah daerah dan program diversifikasi pangan nasional.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut stok beras BULOG mencapai 5.000.198 ton. Angka tersebut merupakan data yang tercatat itu per Kamis, 23 April 2026 pagi.
Ia menilai pencapaian tersebut mencerminkan komitmen negara menjamin ketersediaan pangan. Stok kuat dinilai penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
“Capaian ini menjadi fondasi yang kuat dalam menghadapi tantangan ke depan. Sekaligus memastikan masyarakat mendapat akses pangan yang cukup dan terjangkau,” ujarnya.
Menurutnya, capaian ini tidak hanya bersifat statistik semata. Hal ini menunjukkan peran BULOG menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....