Kemenperin Dorong Kemasan Berbasis Kertas untuk Industri Makanan Minuman
- 25 Apr 2026 01:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian mendorong penggunaan kemasan aseptik berbasis kertas untuk tingkatkan daya saing industri
- Menperin menyebut kemasan kertas telah kompetitif dengan porsi sekitar 28 persen
- Inovasi kemasan dinilai meningkatkan efisiensi distribusi serta mendukung industri ramah lingkungan
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan daya saing industri makanan dan minuman melalui inovasi kemasan. Salah satu langkah strategis yang didukung adalah pemanfaatan kemasan aseptik berbasis kertas sebagai alternatif kemasan konvensional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan pemerintah mulai mendorong penggunaan kemasan non-plastik di sektor industri. Kemasan ini dinilai cukup kompetitif dan memiliki porsi sekitar 28 persen dari total kemasan industri makanan dan minuman.
“Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Dengan penggunaan kemasan aseptik berbasis kertas diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi dan menjaga kualitas produk tanpa bahan pengawet. Kemasan ini juga mengurangi ketergantungan terhadap rantai pendingin dalam proses penyimpanan dan distribusi.
Pelaksana Tugas Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan kemasan ini sejalan dengan kebijakan industri ramah lingkungan. Langkah tersebut diharapkan memperkuat daya saing industri nasional secara berkelanjutan.
Dukungan terhadap inovasi kemasan ditunjukkan melalui kegiatan workshop dan kunjungan industri yang melibatkan pelaku usaha. Kegiatan tersebut dilaksanakan di PT Lami Packaging Indonesia bersama anggota Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI).
Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menilai workshop tersebut penting untuk mencari solusi alternatif kemasan. “Dalam mengantisipasi berbagai tantangan industri, terdapat dua aspek penting yaitu procurement dan divisi manufacturing,” ucap Adhi.
Ia menjelaskan divisi manufacturing perlu meningkatkan efisiensi agar tetap kompetitif, sementara procurement perlu memperluas sumber pasokan. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya industri dalam mencari alternatif sumber kemasan.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar menyampaikan kemasan aseptik kertas memiliki keunggulan efisiensi. Meski harga awal tidak setara dengan plastik, secara keseluruhan biaya dapat seimbang karena tidak membutuhkan rantai pendingin.
“Perlu dipertimbangkan bahwa memang harga kemasan aseptik dari kertas tidak apple to apple dengan kemasan berbahan plastik. Tetapi ketika dikonversi secara menyeluruh, hasilnya mungkin sama,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Merrijantij Punguan Pintaria.
Kebutuhan nasional kemasan aseptik diperkirakan mencapai 8,3 miliar kemasan per tahun. Sekitar 4,8 miliar berasal dari segmen susu dan produk dairy, sisanya dari minuman teh, kopi, dan produk berbasis nabati.
Sebagai produsen kemasan aseptik pertama di Indonesia, LamiPak memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan per tahun. Kapasitas tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Kemenperin menegaskan akan terus mendukung transformasi industri melalui kebijakan dan insentif teknologi. Pemanfaatan kemasan berbasis kertas menjadi langkah konkret menuju industri makanan dan minuman yang lebih efisien, inovatif, dan ramah lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....