Geopolitik Global Pengaruhi Ketahanan Energi Nasional

  • 23 Apr 2026 02:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketahanan energi kembali menjadi prioritas utama banyak negara, termasuk Indonesia ditengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global
  • Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global dalam memperebutkan investasi disektor energi terjadi

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketahanan energi kembali menjadi prioritas utama banyak negara, termasuk Indonesia ditengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global dalam memperebutkan investasi disektor energi terjadi.

Hal itu mendorong pemerintah dan pelaku industri bekerja sama guna menjaga pasokan energi nasional. Isu tersebut menjadi fokus utama dalam sesi diskusi bertajuk Leadership Roundtable Talk (LRT) yang diselenggarakan sebagai salah satu acara dari pameran dan konvensi tahunan Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-50 kalinya.

“Kebijakan tersebut tidak akan merugikan KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama, Red). Karena dilaksanakan dengan prinsip 'no gain no loss'," ujar Direktur Eksekutif Indonesian IPA, Marjolijn Wajong, Rabu 22 April 2026.

Artinya, sambung Wajong, perusahaan migas yang sebelumnya memiliki kontrak ekspor minyak mentah tetap akan mendapatkan kepastian penjualan. "Dimana minyak tersebut akan diserap oleh Pertamina dengan harga yang setara,” ucapya.

.

Namun demikian, lanjutnya, IPA mengingatkan pentingnya pengelolaan masa transisi dalam implementasi kebijakan tersebut. Proses pengalihan lifting dari ekspor ke pasar domestik perlu dipastikan berjalan lancar agar tidak menimbulkan disrupsi terhadap kegiatan produksi maupun operasional di lapangan.

“Forum ini juga menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Sekaligus menjaga daya tarik investasi sektor hulu migas Indonesia di tengah dinamika global yang terus berkembang,” katanya.

Wakil Menteri ESDM, Yulio mengaku saat ini pemerintah telah menetapkan satu kebijakan yang strategis demi memastikan adanya ketersediaan pasokan energi bagi kebutuhan domestik. Pemerintah tidak mengijinkan kontraktor melakukan ekspor minyak mentah yang menjadi bagian mereka demi memastikan kebutuhan minyak mentah untuk dalam negeri Indonesia tercukupi.

"Meskipun terkesan merubah ketentuan yang ada di dalam kontrak bagi hasil (PSC, Red) antara pemerintah dan kontraktor. Namun, kebijakan ini dinilai cukup penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan sekaligus menjaga stabilitas energi nasional di tengah volatilitas global," ujarnya.

Acara yang akrab disebut IPA Convex ini selalu menjadi forum yang mempertemukan para pejabat pemerintah. Kemudian, pimpinan industri, serta para pakar sektor hulu migas.

Tujuannya, untuk membahas arah kebijakan dan strategi dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Beberapa nama hadir pada sesi LRT, diantaranya Wakil Menteri ESDM, Yuliot; Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BPKM, Todotua Pasaribu

Hadir pula Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi, Purnomo Yusgiantoro; Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya. Lalu, President and Group CEO of PETRONAS, Tengku Muhammad Taufik Tengku Kamadjaja Aziz; Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional dan Hilmi Panigoro.

Forum ini juga membahas ketahanan energi yang kini semakin erat dengan aspek pendanaan. Negara perlu mengadopsi strategi diversifikasi sumber pasokan serta memperkuat kolaborasi regional lintas sektor energi untuk meningkatkan resiliensi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....