Mendikdasmen Soroti Stigma dan Akses Pendidikan Inklusif Nasional

  • 20 Apr 2026 14:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti kuatnya stigma sosial dan terbatasnya akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
  • Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengungkapkan kendala finansial menjadi tantangan serius dalam penyediaan layanan pendidikan inklusif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti stigma terhadap anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, stigma tersebut masih kuat dan menghambat pemenuhan hak pendidikan mereka.

Mu’ti menegaskan pandangan negatif harus segera dihapus dari masyarakat. Ia menyebut anggapan tersebut tidak berdasar dan merugikan perkembangan anak.

“Masih ada yang berpendapat bahwa anak berkebutuhan khusus adalah kutukan Tuhan. Pandangan ini keliru dan tidak boleh dibiarkan,” kata Mu’ti dalam peluncuran Program Pelatihan Pendidikan Inklusif 2026, di SMPN 16 Jakarta, Senin, 20 April 2026.

Selain stigma, kendala finansial menjadi tantangan serius pendidikan inklusif. Menurutnya, banyak sekolah belum memiliki anggaran memadai untuk layanan khusus.

Keterbatasan dana berdampak pada fasilitas dan tenaga pendidik. Akibatnya, banyak anak belum memperoleh pendidikan layak.

Mu’ti juga menyoroti kekurangan guru kompeten di bidang pendidikan inklusif. Kebutuhan tenaga pendamping khusus dinilai masih tinggi.

Ia menyebut peningkatan kapasitas guru menjadi prioritas penting pemerintah. Pelatihan dan pendampingan harus terus diperluas.

“Kita masih kekurangan guru yang memiliki kompetensi dan dedikasi. Khususnya dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Jumlah anak berkebutuhan khusus terus meningkat setiap tahun. Namun daya tampung sekolah belum mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut.

Kondisi ini menyebabkan banyak anak belum terjangkau pendidikan formal. Pemerataan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Mu’ti mengapresiasi peran komunitas dalam mendukung pendidikan inklusif. Banyak inisiatif hadir membantu anak berkebutuhan khusus belajar.

Ia menilai upaya tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial yang tinggi. Dukungan semua pihak dibutuhkan untuk menciptakan pendidikan inklusif merata.

“Saya mengapresiasi langkah-langkah kreatif dari berbagai komunitas yang berkomitmen memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Utamanya dalam anak-anak berkebutuhan khusus yang merupakan sebuah kemuliaan luar biasa,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....