Transisi Kemasan Ramah Lingkungan, DPR Tegaskan Pemerintah Perlu Lakukan Ini
- 19 Apr 2026 08:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan menegaskan, pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan sistem transisi kemasan ramah lingkungan
- Sebab, masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi.
- Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata.
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan menegaskan, pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan sistem transisi kemasan ramah lingkungan. Di tengah harga plastik yang melonjak, kondisi ini harus dijadikan momentum mewujudkan transformasi kemasan ramah lingkungan.
“Sebab, masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi. Tetapi perlu kepastian bahwa transformasi menuju kemasan ramah lingkungan memiliki dukungan regulasi, kepastian pasar, dan insentif investasi,” kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya seperti dilansir laman DPR.go.id, dikutip Minggu, 19 April 2026.
Selain itu, Daniel juga menekankan, pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah plastik. Termasuk, menguatkan pengembangan bank sampah di tingkat masyarakat.
“Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata. Tetapi harus dibaca sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder,” ucap Daniel
Kemudian, ia mengingatkan, penguatan sistem daur ulang dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Sekaligus, meningkatkan nilai ekonomi sampah dari daur ulang tersebut.
“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi secara lebih besar, maka ketergantungan bahan baku primer dapat ditekan. Ini dapat menjadi perluasan insentif bagi bahan pengganti plastik yang dapat diproduksi dalam negeri,” ujar Daniel.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengharapkan, penurunan harga plastik dapat segera terjadi di pasar nasional. Ia menilai, stabilitas harga bahan baku tersebut sangat krusial karena berdampak langsung pada biaya kemasan berbagai produk.
Budi menjelaskan, gangguan rantai pasokan bahan baku nafta dari kawasan Asia Barat menjadi penyebab utama kenaikan harga plastik. “Mudah-mudahan plastik juga segera turun karena nanti bisa dampaknya ke yang lain, banyak produk yang dibungkus plastik,” kata Budi saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Ia menyampaikan, pelaku industri nasional saat ini mulai mendapatkan kepastian pasokan dari negara-negara mitra alternatif. Menurutnya, para pengusaha mendatangkan bahan baku dari wilayah India, Afrika, hingga Amerika Serikat (AS) untuk menjaga roda produksi.
Budi menegaskan, proses pengiriman bahan baku pengganti tersebut saat ini sedang berjalan menuju pelabuhan di Indonesia. “Memang, memang masih dalam perjalanan,” ujar Budi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....