Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Awal, Ini Jadwal Versi BMKG

  • 19 Apr 2026 05:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dari biasanya.
  • BMKG mencatat awal musim kemarau mulai terjadi pada April 2026 di sekitar 114 Zona Musim.
  • Wilayah yang lebih dulu terdampak meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dari biasanya. Kondisi ini perlu diantisipasi karena berpotensi memicu cuaca kering di banyak wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan percepatan musim kemarau dipengaruhi berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global telah bertransisi menuju fase netral.

Selain itu, dinamika atmosfer global menunjukkan peluang terbentuknya El Niño pada pertengahan tahun. Kemungkinan kemunculan fenomena tersebut diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 60 persen.

BMKG mencatat awal musim kemarau mulai terjadi pada April 2026 di sekitar 114 Zona Musim. Wilayah yang lebih dulu terdampak meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Memasuki Mei 2026, jumlah wilayah yang memasuki kemarau diperkirakan meningkat menjadi sekitar 184 Zona Musim. Kemudian pada Juni, sebanyak 163 Zona Musim lainnya diproyeksikan turut mengalami kondisi serupa.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan penyebaran musim kemarau akan berlangsung bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Secara keseluruhan, hampir separuh wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih cepat.

BMKG memperkirakan sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih dini. Sementara sebagian wilayah lain tetap normal, dan sebagian kecil justru mengalami keterlambatan.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih cepat mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan bagian selatan dan timur serta Papua. Kondisi ini perlu diwaspadai karena berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Tidak hanya lebih awal, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebagian besar wilayah diproyeksikan mengalami curah hujan di bawah rata-rata.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di mayoritas wilayah Indonesia. Namun, beberapa daerah berpotensi mengalami puncak lebih awal pada Juli atau bergeser ke September.

Durasi musim kemarau juga diperkirakan berlangsung lebih panjang di lebih dari setengah wilayah Indonesia. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan serta gangguan pada sektor pertanian dan ketersediaan air.

Melihat kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Pengelolaan air, ketahanan pangan, serta penyesuaian pola tanam menjadi langkah penting menghadapi musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....