Anggota Komisi IV DPR: Lonjakan Harga Plastik Jadi Momen Ubah Pola Konsumsi

  • 17 Apr 2026 11:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Daniel Johan menilai lonjakan harga plastik menjadi momentum mengubah pola konsumsi masyarakat.
  • Kenaikan hingga 80 persen menunjukkan tingginya ketergantungan industri pada bahan baku impor dan material fosil.
  • DPR mendorong penggunaan alternatif ramah lingkungan, penguatan bank sampah, serta regulasi untuk mendukung transisi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan meminta warga mengubah kebiasaan konsumsi. Ia menilai kenaikan harga plastik saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai membawa kantong belanja sendiri.

Daniel mengakui bahwa material plastik telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia dalam aktivitas setiap hari. Menurutnya, lonjakan harga bahan tersebut memberikan dampak yang sangat besar terhadap stabilitas sektor perdagangan domestik.

“Harus diakui plastik sudah menjadi kebutuhan premier masyarakat sehari-harinya. Dan saat harga plastik melonjak, sektor domestik pun menjadi ikut terdampak besar,” kata Daniel di Jakarta, Jumat, 17 April 2026.

Gangguan rantai pasokan global memicu kenaikan harga plastik hingga 80 persen pada April 2026. Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor saat ini masih sangat tinggi mencapai angka 60 persen.

Ia mengatakan bahwa situasi ekonomi ini menjadi sinyal kerentanan struktur nasional terhadap material berbasis fosil sekarang. Menurutnya, perubahan faktor eksternal akan terus memberikan beban tambahan bagi para pelaku usaha di dalam negeri.

“Situasi ini tidak cukup dibaca hanya sebagai kenaikan biaya produksi atau beban tambahan bagi pelaku usaha. Melainkan sebagai sinyal bahwa struktur ketergantungan nasional terhadap material berbasis fosil masih sangat tinggi dan rentan terhadap perubahan eksternal,” ujar Daniel.

Daniel memandang kondisi sulit ini dapat mendorong penguatan ekosistem penggunaan material alternatif yang jauh lebih berkelanjutan. Lanjutnya, pengurangan konsumsi plastik sekali pakai harus menjadi fokus utama bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

“Kenaikan harga plastik bisa menjadi momen bagi kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Dan memperkuat ekosistem penggunaan material alternatif yang lebih berkelanjutan,” ucap.

Masyarakat sebaiknya mulai membiasakan diri membawa wadah yang dapat dicuci ketika membeli produk makanan di pasar. Lanjutnya, penggunaan kantong belanja yang bisa dipakai berulang kali merupakan langkah awal untuk melakukan perubahan perilaku.

“Bisa dimulai dengan masyarakat terbiasa membawa kantong belanja yang bisa digunakan hingga berkali-kali. Atau saat membeli makanan, bawa wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali,” kata Daniel.

Politisi tersebut menekankan pentingnya pengembangan bank sampah sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder nasional. Menurutnya, program lingkungan ini harus dikelola secara profesional demi menciptakan nilai ekonomi dari pengolahan limbah plastik.

“Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata. Tetapi harus dibaca sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder,” kata Daniel.

Penguatan sistem daur ulang dapat menekan kebutuhan industri terhadap bahan baku primer yang berasal dari luar negeri. Lanjutnya, plastik bekas yang masuk kembali ke rantai produksi akan memberikan insentif bagi produsen bahan pengganti.

“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi secara lebih besar, maka ketergantungan terhadap bahan baku primer dapat ditekan. Dan ini dapat menjadi perluasan insentif bagi bahan pengganti plastik yang dapat diproduksi dalam negeri,” ujarnya.

Daniel mendorong pemerintah agar menyediakan regulasi yang pasti untuk mendukung transformasi menuju penggunaan kemasan ramah lingkungan. Lanjutnya, kepastian pasar dan insentif investasi sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat beradaptasi dengan sistem yang baru.

“Sebab masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi, tetapi perlu kepastian bahwa transformasi menuju kemasan ramah lingkungan memiliki dukungan. Dukungan tersebut seperti, regulasi, kepastian pasar, dan insentif investasi,” ucap Daniel.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....