Menperin Pastikan Stabilitas Pasokan Plastik Nasional di tengah Konflik Global
- 16 Apr 2026 19:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menperin memastikan pasokan plastik nasional tetap stabil meski terdampak konflik global dan gangguan logistik.
- Ketegangan di Selat Hormuz memicu kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga dan keterlambatan pengiriman.
- Pemerintah dorong kemandirian industri petrokimia melalui pemanfaatan bahan baku lokal seperti CPO.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjamin ketersediaan stok plastik nasional tetap stabil. Ia memastikan industri hulu hingga hilir telah memberikan komitmen untuk menjaga kesinambungan suplai di dalam negeri.
Agus menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika geopolitik di kawasan Selat Hormuz secara sangat cermat. Menurutnya, langkah mitigasi bersama telah dibahas untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok bahan baku petrokimia saat ini.
“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat,” ujar Agus di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Lanjutnya, ketegangan global di Timur Tengah menyebabkan distorsi pada struktur harga produk plastik domestik sekarang. Ia menjelaskan bahwa penyesuaian harga tersebut dipicu oleh lonjakan biaya logistik serta pengenaan biaya tambahan pelabuhan.
Agus menyebutkan bahwa waktu pengiriman bahan baku impor kini membengkak secara signifikan akibat gangguan jalur pelayaran. Menurutnya, hambatan distribusi ini memberikan tekanan besar pada beban biaya produksi industri manufaktur di tanah air.
“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” kata Agus.
Pemerintah menekankan bahwa situasi dunia saat ini menjadi pelajaran penting bagi penguatan kemandirian industri petrokimia nasional. Lanjutnya, ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri harus segera dikurangi melalui optimalisasi penyediaan sumber daya lokal.
“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri. Hal tersebut agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ucap Agus.
Menteri Perindustrian juga mengeksplorasi potensi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku pengganti. Lanjutnya, pemanfaatan sumber daya alam domestik tersebut menjadi strategi diversifikasi untuk menjaga ketahanan sektor manufaktur secara berkelanjutan.
“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO. Meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” kata Agus.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI akan terus memfasilitasi kebutuhan pelaku industri agar tetap kompetitif di pasar internasional. “Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” ujar Agus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....