IISM Tekankan Urgensi Tata Kelola Industri Nikel yang Berkeadilan
- 16 Apr 2026 14:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IISM menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam agenda transisi energi melalui forum diseminasi riset bertajuk “Menjembatani Nikel dan Keadilan”.
- Keberhasilan transisi energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi dan investasi. Tetapi juga kemampuan membangun tata kelola yang adil, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM) menegaskan pentingnya keadilan sosial dalam agenda transisi energi. Hal ini disampaikan melalui forum diseminasi riset bertajuk “Menjembatani Nikel dan Keadilan”, di Hotel Swiss-Bell Wahid Hasyim, Selasa 15 April 2026.
Dalam kesempatan ini, hadir hadir perwakilan pemerintah, pelaku industri, perwakilan negara sahabat. Serta organisasi masyarakat sipil dalam diskusi terbuka yang berlangsung dinamis.
Forum ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan beragam perspektif. Khususnya, terkait masa depan industri nikel di tengah percepatan transisi energi global.
Direktur IISM, Rezki Syahrir, Ph.D., menegaskan bahwa dimensi sosial harus terintegrasi dalam transisi energi. Menurutnya, nikel kini berada di pusat agenda transisi energi dunia, namun manfaatnya harus dirasakan secara adil hingga ke tingkat lokal agar tidak memunculkan ketimpangan baru.
Diskusi berlangsung hidup dengan pertukaran pandangan lintas sektor. Sejumlah penanggap pun memberikan perspektif kritis.
Di antaranya, Juanda Volo Sinaga dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Djoko Widajatno dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI). Serta Jalal dari Social Investment Indonesia.
Juanda menilai riset tersebut relevan sebagai dasar penguatan kebijakan. Terutama untuk membangun relasi yang lebih seimbang antara industri, masyarakat, dan lingkungan melalui kerangka tata kelola yang kuat.
Jalal lantas mengapresiasi pendekatan metodologis riset yang dinilai menghadirkan perspektif baru dalam memahami dinamika wilayah tambang. Sementara Djoko menyebut riset ini sebagai langkah penting untuk memperkaya perspektif sektor pertambangan agar keberlanjutan industri nikel dapat terjaga.
Dalam pemaparannya, IISM menjelaskan bahwa riset dikembangkan melalui integrasi Sustainable Livelihoods Approach (SLA) dengan kerangka International Council on Mining and Metals (ICMM). Hal ini dimaksukan untuk melihat relasi antara industri pertambangan dan komunitas.
Dari integrasi tersebut, IISM mengembangkan Developed Livelihood Mining Resilience Framework (DLMRF). Yakni, kerangka analisis ketahanan masyarakat di wilayah tambang yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, kerentanan, dan tata kelola.
Namun, perhatian peserta tidak berhenti pada metodologi maupun temuan riset. Diskusi berkembang ke isu strategis seperti transparansi industri, penguatan tata kelola, partisipasi masyarakat, hingga distribusi manfaat ekonomi yang lebih adil.
Manajer Program IISM, Mokh Sobirin, menilai, nilai utama forum terletak pada kualitas dialog yang terbentuk. Ia menegaskan bahwa ruang diskusi terbuka memungkinkan berbagai perspektif bertemu dan berdebat secara konstruktif, menjadi fondasi penting bagi perbaikan kebijakan ke depan.
Forum ini menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi dan investasi. Tetapi juga kemampuan membangun tata kelola yang adil, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
IISM menyatakan akan terus mendorong riset berbasis data serta membuka ruang dialog lintas sektor. Guna memperkuat arah kebijakan menuju transisi energi yang hijau dan berkeadilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....