BNPB: Dampak Bencana pada Cagar Budaya Picu Luka Psikologis Masyarakat
- 14 Apr 2026 22:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bencana tidak hanya merusak bangunan cagar budaya, tetapi juga memutus hubungan masyarakat dengan sejarah, menimbulkan luka psikologis, serta menghambat pemulihan pascabencana.
- Sejumlah bencana besar seperti tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, hingga banjir dan longsor 2025 menunjukkan cagar budaya di Indonesia sangat rentan dan kerap terdampak.
- Letak Indonesia di Ring of Fire serta dampak perubahan iklim memperbesar risiko kerusakan cagar budaya, sehingga perlindungan dan mitigasi menjadi semakin mendesak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Dampak bencana terhadap cagar budaya tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, melainkan menimbulkan luka psikologis bagi masyarakat. Demikian disampaikan oleh Kepala Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari.
"Dampak bencana terhadap cagar budaya tidak hanya merusak bangunan. Tetapi juga memutus hubungan masyarakat dengan sejarah dan identitasnya," katanya dalam dialog seminar Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa, 14 April 2026.
Ia menjelaskan, selain menimbulkan luka psikologis bagi masyarakat, kerusakan tersebut menghambat proses pemulihan pascabencana. Dan juga menghilangkan sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.
Ia juga menilai, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia menunjukkan tingginya kerentanan cagar budaya. Tidak hanya merusak bangunan bersejarah, bencana juga menghapus memori kolektif, identitas lokal, hingga potensi ekonomi dari sektor pariwisata budaya.
Sejumlah peristiwa besar menjadi catatan penting yaitu tsunami Aceh tahun 2004. Ia menyampaikan, lebih dari 50 situs cagar budaya rusak atau hilang, termasuk kompleks makam kerajaan dan masjid tua.
"Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa cagar budaya membutuhkan perlindungan khusus. Terutama dalam penanggulangan bencana," ujarnya.
Kemudian, gempa Yogyakarta tahun 2006 yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah situs penting. Kerusakan tersebut ditandai adanya retakan struktural di Candi Borobudur serta kerusakan pada beberapa bagian Candi Prambanan.
Sementara itu, erupsi Gunung Merapi pada 2010–2011 juga mengancam situs-situs di sekitarnya akibat aliran lahar dingin. Lalu pada 2025, bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra turut berdampak besar terhadap cagar budaya.
Tercatat sekitar 43 hingga 70 situs di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami kerusakan. Hal itu menjadikannya salah satu insiden terbesar dalam satu dekade terakhir.
Ia menekankan, kerugian akibat bencana terhadap cagar budaya tidak hanya bersifat material. "Kehilangan warisan sejarah juga berdampak pada ekonomi masyarakat serta mengikis identitas budaya bangsa," ucapnya.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan kerusakan cagar budaya akibat bencana alam merupakan ancaman nyata yang terus dihadapi Indonesia. Hal itu disebabkan karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire membuat wilayahnya rawan terhadap berbagai bencana alam.
| Baca juga: Menbud Ajak Semua Pihak Jaga Cagar Budaya |
Ia menjelaskan, kondisi tersebut semakin diperparah dengan dampak perubahan iklim yang semakin meningkatkan intensitas bencana. "Ancaman terhadap cagar budaya bisa kita lihat nyata, bahkan pada bencana tahun lalu banyak situs yang terdampak," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....