BNPB: Cagar Budaya Indonesia Rawan Bencana, Ini Penyebabnya
- 14 Apr 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala Pusdatin BNPB Abdul Muhari menyebut cagar budaya rentan bencana karena material tradisional, lokasi di Ring of Fire, serta keterbatasan pengelolaan.
- Kerentanan mencakup aspek fisik, sosial-ekonomi, dan lingkungan, yang semakin diperparah perubahan iklim dan keterbatasan kapasitas pemulihan.
- Pamong Budaya Fitra Arda menekankan mitigasi bencana melalui tiga tahap (pra, tanggap darurat, pasca) sebagai langkah pelindungan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengungkapkan cagar budaya di Indonesia menghadapi kerentanan tinggi terhadap bencana. Kondisi ini dipengaruhi faktor material, lokasi geografis, hingga keterbatasan pengelolaan.
Ia menjelaskan, banyak cagar budaya berusia ratusan tahun yang dibangun menggunakan material tradisional seperti kayu, batu, dan bata merah. Material tersebut dinilai lebih rapuh terhadap gempa bumi, tsunami, serta tekanan lingkungan lainnya.
"Material tersebut dinilai lebih rapuh terhadap gempa bumi, tsunami, serta tekanan lingkungan lainnya. Teknologi konstruksi masa lalu belum dirancang untuk menghadapi beban dinamis modern," katanya dalam dialog seminar Cagar Budaya Tanggung Bencana yang Berkelanjutan, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa, 14 April 2026.
Dari sisi geografis, lanjutnya, Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang rawan bencana. Ribuan cagar budaya tersebar di wilayah berisiko tinggi, termasuk zona subduksi dan jalur patahan aktif.
Ia juga menyoroti keterbatasan sumber daya sebagai faktor lain yang memperbesar kerentanan. Mulai dari minimnya anggaran pemeliharaan, kekurangan tenaga ahli konservasi, hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan cagar budaya.
Menurutnya, kerentanan cagar budaya mencakup tiga dimensi utama, yakni fisik, sosial-ekonomi, dan lingkungan. Ketiganya semakin diperparah oleh dampak perubahan iklim global yang meningkatkan frekuensi bencana sekaligus membatasi kapasitas pemulihan.
"Hal ini menciptakan lingkaran risiko yang berulang. Antara meningkatnya bencana dan terbatasnya kemampuan pemulihan," ujarnya.
Ia menilai, diperlukan penguatan pengelolaan, peningkatan kapasitas. Serta kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi risiko kerusakan cagar budaya di masa depan.
Pamong Budaya Utama, Fitra Arda menekankan pentingnya mitigasi bencana dalam upaya melindungi cagar budaya dari risiko kerusakan. Ia menjelaskan, tingginya potensi bencana di Indonesia menuntut adanya langkah antisipatif untuk mengurangi dampak negatif.
Menurutnya, mitigasi bencana merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan sebelum bencana terjadi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak terhadap manusia dan lingkungan.
"Mitigasi tidak hanya untuk mengurangi kerugian material. Tetapi juga menyelamatkan nyawa serta menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan penanggulangan bencana terhadap cagar budaya dilakukan dalam tiga tahapan. Yakni pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana.
| Baca juga: Menbud Ajak Semua Pihak Jaga Cagar Budaya |
Melalui pendekatan tersebut, kata dia, ia berharap upaya pelindungan cagar budaya dapat dilakukan secara sistematis. Dan juga berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....