Akademisi Soroti Peran Teknologi Permudah Mobilitas Pemudik selama Lebaran 2026
- 14 Apr 2026 13:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Guru Besar STIK Albertus Wahyurudhanto menyoroti peran teknologi digital saat mudik 2026
- GPS, pembayaran non-tunai, dan kebijakan Work From Anywhere memengaruhi mobilitas pemudik
- GPS, pembayaran non-tunai, dan kebijakan Work From Anywhere memengaruhi mobilitas pemudik
RRI.CO.ID, Jakarta – Guru Besar STIK Albertus Wahyurudhanto menyoroti peran teknologi digital dalam mendukung perjalanan mudik Lebaran 2026. Menurutnya, GPS, pembayaran non-tunai, dan kebijakan Work From Anywhere memudahkan mobilitas pemudik di berbagai wilayah.
"Ini bukan kesalahan teknologi atau manusia semata. Literasi publik menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Albertus menjelaskan, penggunaan teknologi digital ikut membentuk dinamika perjalanan masyarakat selama arus mudik Lebaran tahun ini. Perubahan itu terlihat dari navigasi perjalanan hingga transaksi elektronik di berbagai titik layanan.
"Data menjadi sistem pendukung yang sangat penting. Namun, keputusan tetap diambil oleh manusia," katanya.
Namun demikian, pemanfaatan teknologi di lapangan masih menyisakan sejumlah kendala yang perlu diperhatikan. Kesalahan penggunaan navigasi dan ketidaksiapan pembayaran elektronik masih ditemukan selama arus mudik berlangsung.
"Posko mudik dan pelayanan jelas memberikan kontribusi besar. Pengelolaan arus mudik dilakukan secara terpadu dan kolaboratif," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai keberhasilan Operasi Ketupat 2026 tidak hanya ditentukan oleh teknologi semata. Menurutnya, kerja kolaboratif lintas sektor ikut memperkuat pelayanan dan pengamanan di berbagai jalur mudik.
Polri, tenaga kesehatan, instansi pemerintah, dan pemangku kepentingan lain disebut terlibat dalam posko terpadu. Kolaborasi itu dinilai penting untuk menghadirkan pelayanan mudik yang lebih optimal ke depan.
Sementara itu, Kakorlantas Polri Agus Suryonugroho menyebut kelancaran mudik dan balik terbantu melalui pendekatan predictive traffic policing. Menurutnya, pengelolaan arus kendaraan tidak hanya bertumpu pada prediksi, tetapi memakai parameter yang terukur.
"Dengan predictive traffic policing, kami bisa menentukan kapan menerapkan contraflow, one way, hingga one way nasional. Semua dilakukan berdasarkan parameter terukur agar pergerakan kendaraan dapat diprioritaskan dengan baik," ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan pendekatan itu diperkuat adaptive driver management serta kolaborasi lintas sektor di berbagai titik. Berkat strategi tersebut, arus lalu lintas tetap terjaga meski jumlah pemudik tahun ini meningkat signifikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....