Perluas Akses Kerja Luar Negeri, Kemdiktisaintek Optimalkan CDC Perguruan Tinggi

  • 08 Apr 2026 16:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamendiktisaintek Fauzan mengatakan, kampus harus menjadi ekosistem kuat untuk melahirkan talenta global.
  • Kemdiktisaintek mendorong penguatan ekosistem untuk meningkatkan jumlah pekerja migran Indonesia terampil, terutama di sektor-sektor berkeahlian tinggi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan, kampus harus menjadi ekosistem kuat untuk melahirkan talenta global. Untuk itu, Kemdiktisaintek mendorong penguatan ekosistem untuk meningkatkan jumlah pekerja migran Indonesia terampil, terutama di sektor-sektor berkeahlian tinggi.

"Hari ini kita sedang merancang sebuah formula yang efektif untuk memasifkan kerja ke luar negeri, khususnya lulusan perguruan tinggi. Pertemuan ini akan melahirkan satu konsep menuju budaya dan pola pikir baru terkait bekerja di luar negeri," kata Fauzan dalam acara diskusi di Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Kemdiktisaintek bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) bekerjasama memperkuat Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi. Menurutnya, kerja sama ini sekaligus membuka peluang kerja bagi lulusan di perguruan tinggi dalam negeri untuk menjadi tenaga kerja terampil bekerja di luar negeri.

"Kita mencoba menghadirkan formula yang efektif untuk memassifkan apa namanya kerja luar negeri, khususnya lulusan perguruan tinggi. Kami bekerja sama dengan Kementerian P2MI, dan forum ini akan melahirkan satu konsep menuju budaya baru kerja ke luar negeri," ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia termasuk negara yang tenaga kerja migrannya tidak banyak. Terlebih jika dibandingkan dengan India serta Filipina.

"Tentu ini persoalannya banyak, salah satunya adalah budaya luar negeri itu belum menjadi tren. Ya, maka forum ini akan kita buat, kita desain bagaimana agar kampus-kampus juga menjadikan bekerja ke luar negeri itu menjadi semangat," katanya.

Ia berharap kerja di luar negeri tidak hanya menjadi tren bagi para lulusan. Namun juga menjadi semangat baru dan memberikan wacana baru dalam mengembangkan sistem akademiknya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menilai penguatan kampus menjadi kunci utama. Perguruan tinggi dinilai sebagai sentra penyiapan talenta global.

“Di tingkat global terdapat kekurangan tenaga kerja terampil. Perguruan tinggi menyiapkan talenta untuk kebutuhan domestik dan internasional,” kata Khairul.

Dirjen Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (Dirjen P3KLN) KP2MI, Dwi Setiawan Susanto mengatakan, setiap kampus memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga kapasitas yang dibutuhkan berbeda-beda pula.

"Apalagi Indonesia punya berbagai sektor unggulan. Center-center ini harus kita manfaatkan dan kolaborasikan bersama,” ujar Dwi.

Data Badan Pusat Statistik dan KP2MI mencatat sekitar 296 ribu pekerja migran ditempatkan ke luar negeri. Total remitansi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp280 triliun bagi perekonomian nasional.

Angka tersebut menunjukkan kontribusi signifikan pekerja migran terhadap ekonomi Indonesia. Namun, tenaga kerja terampil Indonesia di luar negeri masih terbatas dibanding negara lain.

Negara seperti Filipina dan India memiliki lebih banyak pekerja terampil di sektor keahlian tinggi. Indonesia masih perlu meningkatkan jumlah tenaga kerja berkeahlian tinggi di pasar global.

Di sisi lain, laporan global menunjukkan kekurangan tenaga kerja terampil di berbagai negara. Kekurangan terjadi pada sektor kesehatan, manufaktur, dan teknologi.

Penguatan Career Development Center menjadi instrumen penting dalam menyiapkan lulusan siap kerja global. Saat ini terdapat sekitar 170 CDC berbasis kampus di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....